Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji persepsi masyarakat Kota Pasuruan terhadap Pilkada Wali Kota 2024 yang hanya memiliki calon tunggal dan fenomena bumbung kosong sebagai alternatif pilihan. Metode penelitian yang digunakan adalah wawancara dengan tiga informan, yaitu Aldys Pradana, Arum Ahadian, dan Djoko Yanuarso. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat merasa kecewa dengan terbatasnya pilihan dalam Pilkada ini, yang dianggap mengurangi esensi demokrasi. Bumbung kosong muncul sebagai bentuk protes terhadap calon tunggal, namun juga dipandang sebagai alternatif bagi mereka yang tidak merasa terwakili oleh calon tunggal tersebut. Meskipun demikian, sebagian masyarakat tetap berniat berpartisipasi dalam Pilkada, baik dengan memilih calon tunggal ataupun bumbung kosong. Fenomena ini mencerminkan ketidakpuasan terhadap kurangnya kompetisi dalam proses demokrasi di Kota Pasuruan. Oleh karena itu, penting bagi penyelenggara Pilkada untuk menyediakan lebih banyak pilihan dan kompetisi sehat dalam rangka meningkatkan partisipasi politik masyarakat. Kata kunci: Pilkada, persepsi masyarakat, calon tunggal, bumbung kosong, partisipasi politik, demokrasi.
Copyrights © 0000