Tanaman teh merupakan komoditas penting di Indonesia, namun produksinya sangat dipengaruhi oleh ketinggian tempat. Ketinggian yang berbeda akan menghasilkan kondisi iklim mikro yang unik, seperti suhu, kelembaban, dan intensitas cahaya yang berbeda pula. Kondisi iklim mikro ini secara langsung memengaruhi pertumbuhan, fisiologi, dan produktivitas tanaman teh. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana perbedaan ketinggian tempat, khususnya antara dataran rendah dan menengah, mempengaruhi respon fisiologis tanaman teh dan produksi pucuknya di wilayah Yogyakarta. Penelitian dilakukan di dua kebun produksi teh dengan ketinggian tempat berbeda yaitu Turgo (Zona Rendah 514 mdpl) dan Nglinggo (Zona Menengah (852 mdpl) pada bulan Mei – Agustus 2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman teh yang tumbuh di dataran menengah memiliki keunggulan dibandingkan dataran rendah. Kondisi iklim di dataran menengah, seperti suhu yang lebih sejuk dan kelembaban yang cukup, sangat mendukung pertumbuhan tanaman teh. Kondisi ini membuat tanaman teh di dataran menengah lebih efisien dalam berfotosintesis dan menggunakan air. Akibatnya, tanaman teh di dataran menengah menghasilkan daun yang lebih hijau, lebih luas, dan memiliki laju pertumbuhan yang lebih baik. Hal ini berujung pada peningkatan produktivitas dan kualitas pucuk teh. Pemilihan lokasi penanaman teh yang tepat, terutama di daerah dengan ketinggian menengah, sangat penting untuk mencapai hasil produksi yang optimal.
Copyrights © 2024