Analisis spasial adalah salah satu cara pendataan dalam upaya manajemen lingkungan dan merupakan bagian dari manajemen penyakit berbasis wilayah. Salah satu penyakit berbasis lingkungan yaitu demam berdarah dengue. DBD adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh infeksi virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes betina. DBD saat ini telah menyebabkan endemik di 100 negara di wilayah WHO, termasuk Indonesia. Kota Kupang merupakan ibu kota Provinsi NTT yang selama 2019-2022 menjadi salah satu penyumbang kasus DBD yang tinggi dimana pada tahun 2019 kasus DBD sebanyak 681, tahun 2020 meningkat sebanyak 821 kasus, tahun 2021 menurun menjadi 654 kasus dan tahun 2022 menurun menjadi 455 kasus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko yang mempengaruhi kejadian DBD. Jenis penelitian observasional analitik dengan desain penelitian studi ekologi. Hasil penelitian menunjukkan tidak adanya pengaruh kepadatan penduduk dengan DBD dan terdapat satu wilayah kecamatan yang berada di wilayah High-High yaitu Kecamatan Kota Lama. Ketinggian wilayah tidak berpengaruh dengan DBD dan terdapat satu wilayah kecamatan yang berada di wilayah High-Low yaitu Kecamatan Kota Alak. Curah hujan berpengaruh dengan DBD tahun 2019-2020, sedangkan 2021-2022 tidak berpengaruh dengan DBD. Kelembaban udara berpengaruh dengan DBD. Kecepatan angin tidak berpengaruh dengan DBD. Saran yaitu melakukan pengendalian dan penanggulangan terhadap penyakit DBD terutama pada kecamatan yang memiliki kasus demam berdarah dengue tinggi dan peningkatan preventif terhadap DBD
Copyrights © 2024