Kemampuan berbicara memungkinkan anak-anak untuk berinteraksi dengan orang lain di sekitar mereka, menjadikan kompetensi linguistik sebagai keterampilan hidup yang penting. Ketika anak-anak mulai menjalin hubungan dengan orang lain, bahasa menjadi sarana utama untuk mengkomunikasikan ide dan informasi mereka. Tahun-tahun pembentukan kehidupan seorang anak ditandai dengan matangnya kemampuan berbahasanya. Sebagian anak Taman Kanak-Kanak di Rendhawa English School belum sepenuhnya mengembangkan keterampilan bahasa ketika penelitian ini dilakukan, mungkin karena tingginya jumlah siswa yang mendaftar di kelas tersebut. Ada sejumlah penanda perkembangan bahasa, dan ketidakmampuan anak mengartikulasikan idenya adalah salah satunya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi aspek makro dan mikro role play yang berkontribusi terhadap perkembangan linguistik anak. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas sebagai metodologinya. Menghitung jumlah dan persentase siswa yang mencapai perkembangan pada setiap siklus dengan menggunakan analisis kuantitatif (analisis persentase). Dalam analisis kualitatif disebut juga analisis evaluasi, tingkat perkembangan yang dicapai anak dinilai dengan empat kategori: belum berkembang (BB), mulai berkembang (MB), berkembang sesuai harapan (BSH), dan berkembang sangat baik (BSB). Metode pengumpulan data meliputi pencatatan yang cermat dan pengamatan lingkungan secara cermat. Temuan penelitian ini mendukung gagasan bahwa bermain peran membantu anak-anak mengembangkan kemampuan linguistik mereka. Hal menakjubkan lainnya tentang bermain peran adalah memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk terhubung dengan orang-orang nyata, yang sangat bagus untuk perkembangan sosial dan bahasa mereka.
Copyrights © 2024