Luka emosional yang diakibatkan perselingkuhan dalam pernikahan meninggalkan rasa sakit yang mendalam bagi korban terutama hilangnya kepercayaan. Namun beberapa pasangan ada yang tetap memilih bersama dengan harapan hubungannya dapat pulih sebagaimana semula meski harus menghadapi luka emosional tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran komunikasi interpersonal dalam membantu korban perselingkuhan merekonstruksi dirinya. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan studi kasus, menggunakan wawancara tidak terstruktur, observasi, dan dokumentasi untuk mengumpulkan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lima dimensi komunikasi interpersonal punya peran penting dalam upaya rekonstruksi diri bagi korban, lima dimensi tersebut antara lain: keterbukaan, empati, sikap mendukung, sikap positif, dan kesetaraan. Dimensi-dimensi ini memungkinkan korban dan pasangan untuk saling memahami, mengatasi emosi negatif, dan membangun kembali kepercayaan. Korban dapat menyampaikan perasaannya secara jujur, sementara pasangan yang bersalah dapat menunjukkan penyesalan dan komitmen untuk memperbaiki hubungan. Keterlibatan kedua belah pihak dalam komunikasi yang dialogis juga membantu menciptakan lingkungan yang lebih suportif dan inklusif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa komunikasi interpersonal yang efektif dapat menjadi alat penting dalam proses rekonstruksi diri korban perselingkuhan, membantu mereka menemukan kembali kepercayaan diri dan mengembangkan hubungan pernikahan yang lebih sehat. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman tentang pentingnya komunikasi dalam mengatasi konflik dalam pernikahan.
Copyrights © 2024