Artikel ini menjelaskan bagaimana ungkapan lokal manasumo raka? yang mulai pudar dalam masyarakat Toraja dapat menjadi sumber teologi persahabatan antara masyarakat beda agama di Toraja. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan pendekatan teori interaksionisme simbolik Mead dan Teologi Lokal Sedmark. Hasil artikel ini menunjukkan bahwa sapaan manasumo raka? mengandung unsur persahabatan, kekeluargaan yang merujuk pada keterbukaan, sekaligus juga sebagai ekspresi anti-ego yang amat khas sebagai identitas orang Toraja. Sapaan ini menjadi simbol upaya orang Toraja untuk membuka sekat-sekat yang memisahkan masyarakat, baik itu dalam hal status sosial, status ekonomi, usia, dan tentunya perbedaan agama, sehingga dapat dilihat bahwa ungkapan ini memiliki makna dan nilai yang sangat dan lebih mendalam daripada ungkapan atau sapaan keagamaan lainnya.
Copyrights © 2024