Al-Quran beserta interaksinya dengan khalayak masyarakat muslim secara umum di berbagai wilayah memungkinkan adanya berbagai macam respons maupun perlakuan yang beragam. Bahkan banyak fenomena di kalangan masyarakat dalam menerapkan al-Quran di konteks keseharian baik dalam bentuk tradisi maupun kebiasaan yang didasari oleh al-Quran itu sendiri. Salah satu dari beragamnya fenomena tersebut adalah majelis Wening Ati, yang merupakan forum dakwah di bawah gerakan Tarbiyah yang di dalamnya menerapkan penghidupan al-Quran pada kehidupan keseharian (Living Quran) dalam bentuk sima'an hafalan dan tadabbur ayat al-Quran yang bersifat wajib di setiap pelaksanaan majelis tersebut. Kegiatan sima'an dan tadabbur pada majelis Wening Ati, yang apabila dilihat konstruksinya menggunakan teori Konstruksi Sosial oleh Berger dan Luckman maka akan mengarah kepada tiga aspek dialektika: Objective Reality, Symbolic Reality dan Subjective Reality. Objective reality dalam konstruksi pemahaman adalah keyakinan bahwa al-Qur'an merupakan sumber berkah. Lalu ada ekspresi simbolik dari keyakinan tersebut (Symblolic reality) berupa melakukan sima'an dan tadabbur al-Quran. Sedang pada Subjective Reality, dengan dilaksanakannya sima'an dan tadabbur pada kegiatan majelis tersebut maka akan didapatkan barakah di sepanjang kegiatan tersebut berlangsung.
Copyrights © 2024