Stilistika
Vol. 13 No. 1 (2024): STILISTIKA: JURNAL PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI

ANGGRENI DUTA: PERSEMBAHAN GURU-DAKSINA KEPADA DRONA

Geria, Anak Agung Gde Alit (Unknown)



Article Info

Publish Date
22 Nov 2024

Abstract

Geguritan Dyah Anggreni merupakan hasil karya sastra lama sarat akan nilai adiluhung. Pada hakikatnya, kandungan isi yang tersirat dalam Geguritan Dyah Anggreni memiliki inti ajaran Hindu yang mencakup satyam (kebenaran), siwam (kesucian), dan sundaram (keindahan). Artinya, keharmonisan akan terwujud jika dibangun oleh sikap hidup yang seimbang, yakni hubungan dengan Sang Pencipta, sesama manusia, dan semesta alam yang disebut Tri Hita Karana. Geguritan Dyah Anggreni karya I Made Jimbar yang bersumber dari cerita Adiparwa ini, selesai ditulis pada tahun Saka 1923 (2001 Masehi), terdiri dari 7 pupuh dan 196 bait. Teks beraksara Latin berbahasa Kawi-Bali ini, berisikan tentang perjalanan Dyah Anggreni sebagai duta dari suaminya (Bambang Ekalawya) untuk mempersembahkan guru-daksina kepada Mahaguru Drona di Hastinapura. Konsep guru-daksina, merupakan tradisi zaman mahabharata yakni pemberian sesuatu dari seorang sisya (murid) kepada seorang siwa (guru) sebagai ucapan terima kasih seorang murid atas segala pengetahuan yang telah diajarkan gurunya. Walaupun lewat sebuah patung berwujud Drona, diyakini sebagai guru sejati yang mampu memberi segala ilmu pepanahan (dhanurdhara) hingga meresap pada diri Ekalawya. Di perjalanan, Dyah Anggreni dihadang para begal yang akhirnya minta bantuan kepada Arjuna. Ada janji yang seakan tergesa-gesa (kadropon) dilontarkan Dyah Anggreni kepada Arjuna, demi keselamatan dirinya dan para begal dapat terbunuh. Setelah berhasil, Arjuna menuntut janji hingga Dyah Anggreni berlari hingga jatuh ke jurang. Beruntung masih bisa diselamatkan oleh Dewi Peri. Mendengar kisah tersebut, Ekalawya segera minta keadilan ke Hastinapura, hingga perang tanding melawan Arjuna. Kemudian Arjuna menuntut balas ke Nishada. Akhirnya Ekalawya terbunuh dalam perang tanding karena kesaktian berupa cincin kresnadana dan ibu jarinya diminta oleh Kresna dan Drona. Karena kesetiaannya, Ni Dyah Anggreni kemudian mati bunuh diri sebagai tanda satyeng laki hingga mereka bertemu kembali di alam surga, karena telah melaksanakan kewajiban sebagai suami-istri yang baik dan setia (satyeng alaki-rabi) di mercapadha (dunia nyata)

Copyrights © 2024






Journal Info

Abbrev

stilistika

Publisher

Subject

Arts Education Languange, Linguistic, Communication & Media

Description

Perkembangan dan dinamika ilmu pengetahuan, termasuk salah satunya ilmu pendidikan bahasa dan seni sangatlah pesat. Perlu sebuah wadah untuk menampung dan menyebarluaskan kemajuan ilmu pendidikan bahasa dan seni secara berkesinambungan agar dapat mengedukasi masyarakat. Civitas akademika FKIP ...