Sumenep merupakan kabupaten yang memiliki banyak tujuan destinasi wisata religi yang bersejarah di pulau Madura, salah satunya adalah Masjid Baitul Arham. Untuk menjadi tujuan wisata religi, Masjid Baitul Arham harus mempertimbangkan segala aksesibilitas bagi setiap pengunjungnya baik masyarakat umum maupun disabilitas. Salah satu strategi dalam mengembangkan pariwisata adalah dengan membangun wisata religi berbasis inklusi agar minoritas penyandang disabilitas bisa mendapatkan hak yang sama untuk menikmati wisata. Penelitian ini dianalisis dengan menggunakan teori struktural fungsional Emile Durkheim untuk melihat keterkaitan antara agama—sebagai identitas masyarakat Madura yang memunculkan suatu fenomena ziarah ke tempat wisata religi dan peran pemerintah—dan pengelola setempat dalam menyediakan fasilitas yang inklusi. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dan metode studi kasus. Metode penentuan informan yang digunakan adalah purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode wawancara dan observasi. Metode untuk analisis data menggunakan model analisis Miles dan Huberman dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Penelitian ini menghasilkan sebuah temuan baru bahwa wisata religi yang ada di Sumenep sudah mulai sadar inklusi—dilihat dari fasilitas-fasilitas yang ada—namun hal ini masih terbatas pada wisata-wisata religi di jalan-jalan besar saja. Perlu adanya peningkatan pembangunan wisata religi lainnya secara bertahap dengan melibatkan semua elemen, baik masyarakat dan pemerintah.
Copyrights © 2024