Abstrak: Penelitian ini membahas fenomena toxic relationship dalam komunikasi interpersonal di kalangan remaja. Toxic relationship dijelaskan sebagai hubungan yang tidak sehat dan tidak memberikan dampak positif bagi kedua belah pihak yang terlibat. Faktor-faktor penyebab toxic relationship melibatkan rendahnya harga diri, kurangnya komunikasi efektif, trauma masa lalu, ketidakmampuan mengelola emosi, kecanduan terhadap pasangan atau sumber pendapatan, serta pengaruh dari lingkungan sosial. Dampak dari toxic relationship mencakup stres, depresi, ansietas, insomnia, penurunan berat badan, dan bahkan bunuh diri. Untuk mengatasi toxic relationship, diperlukan kesadaran dari pihak terlibat untuk mengenali tanda-tanda dan dampak dari hubungan tersebut. Dukungan dari pihak ketiga, seperti keluarga, teman, organisasi, atau konselor, juga diperlukan untuk memberikan bantuan secara objektif dan profesional. Langkah-langkah pengakhiran hubungan toxic melibatkan pengurangan kontak, penetapan batasan, pengungkapan perasaan, atau bahkan pemutusan hubungan secara tegas. Pemulihan diri dapat dicapai dengan meningkatkan harga diri, menjaga kesehatan, mengembangkan hobi, bergabung dengan komunitas, atau mencari bantuan profesional. Penelitian ini menggunakan metode wawancara dengan tiga subjek remaja yang pernah mengalami toxic relationship. Hasil wawancara menggambarkan bahwa subjek mengalami kekerasan verbal dan non-verbal, kesulitan memutuskan hubungan, serta harapan untuk mendapatkan pasangan yang lebih baik. Analisis data melibatkan kondensasi data, display data, dan pembuatan kesimpulan. Jadwal kegiatan penelitian mencakup diskusi kelompok, wawancara, penyebaran pamflet, dan penyusunan laporan. Kata Kunci: Toxic Relationship; Remaja; Dampak Kesehatan; Strategi Penangan; Komunikasi Interpersonal
Copyrights © 2024