Pada era saat ini, dalam kegiatan pembelajaran baik mata pelajaran umum maupun kegiatan Bimbingan dan Konseling, peserta didik sering merasakan kejenuhan atau kebosanan. Setelah ditelusuri, ternyata alasan peserta didik merasa jenuh dan bosan adalah karena kegiatan belajar mengajar yang terlalu monoton dari tahun ke tahun, di mana mereka tetap duduk di tempat duduk dan mendengarkan guru menjelaskan. Hal ini menyebabkan kejenuhan dalam belajar, melewati berbagai mata pelajaran dan kondisi belajar yang berbeda, serta guru pengajar yang berbeda untuk tiap mata pelajaran, salah satunya adalah pelajaran Bimbingan dan Konseling di sekolah. Kegiatan layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah memiliki empat komponen layanan yang perlu dilaksanakan. Tujuannya adalah untuk memberikan ide atau pengembangan dengan kegiatan yang menyenangkan dan tidak membosankan, melalui permainan dan aktivitas menarik yang disesuaikan dengan tujuan layanan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif, dengan jenis penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif ini dilakukan melalui observasi terkait pemberian layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah dengan menerapkan desain thinking dalam layanannya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan desain thinking efektif digunakan dalam kegiatan layanan untuk meningkatkan peran aktif peserta didik di kelas.
Copyrights © 2025