Kasus kekerasan dan perilaku bermasalah pada remaja yang dikenal dengan istilah perilaku delinkuen kembali marak dan meningkat setiap periodenya. Mirisnya bentuk delinkuensi remaja saat ini mengikuti seiring perkembangan zamannya. Remaja dengan kondisi keluarga yang tidak harmonis atau tidak diasuh orang tua secara langsung seperti pekerja migran cenderung terlibat baik sebagai pelaku maupun korban tindak kekerasan sehingga diperlukan solusi guna upaya pencegahan. Psikoedukasi tentang pencegahan perilaku delinkuen diduga mampu untuk mereduksinya. Tujuan dari psikoedukasi yakni meningkatkan pengetahuan, kesadaran serta kemampuan penerapan keterampilan sosial yang dikembangkan. Tahapan psikoedukasi dilakukan menjadi empat yakni; 1). Tahap identifikasi, 2).Tahap persiapan, 3).Tahap pelaksanaan, 4)Tahap evaluasi. Kegiatan pengabdian menghasilkan; 1). Peningkatan pengetahuan dan kesadaran tentang pemicu, bentuk – bentuk serta dampak buruk perilaku delinkuen remaja yang ditunjukan dari hasil pengisisan kuisioner, 2).Peningkatan kemampuan penerapan keterampilan sosial guna menghindari menjadi korban tindak kekerasan dengan cara menggunakan mekanisme koping positif, membiasakan komunikasi asertif dan mengembangkan kecerdasan dalam diri.
Copyrights © 2024