Budaya kerja masyarakat Melayu, yang diwariskan melalui nilai-nilai luhur seperti ketangguhan, tanggung jawab, dan gotong royong, telah lama menjadi landasan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Filosofi "berpantang mundur" mencerminkan semangat gigih dan tak kenal menyerah yang melekat dalam budaya Melayu, khususnya dalam konteks sosial dan pekerjaan tradisional. Namun, dengan hadirnya modernisasi dan globalisasi, terjadi pergeseran dalam pola kerja masyarakat Melayu, baik di sektor tradisional maupun sektor formal. Modernitas yang mendorong efisiensi, individualisme, dan materialisme sering kali berkonflik dengan nilai-nilai kolektif yang mengutamakan kebersamaan dan kerja sama. Penelitian ini bertujuan untuk menggali relevansi filosofi "berpantang mundur" dalam menghadapi dinamika kerja modern, serta memetakan praktik kerja yang tetap mempertahankan nilai-nilai tradisional Melayu di tengah perubahan zaman. Melalui studi kasus di berbagai sektor, termasuk konstruksi, bisnis keluarga, perbankan, dan pendidikan, penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun tuntutan dunia kerja semakin kompleks, filosofi Melayu tetap memiliki tempat yang relevan. Ketangguhan dalam menghadapi kesulitan, tanggung jawab terhadap pekerjaan, dan semangat gotong royong dapat menjadi pilar penting dalam mencapai keberhasilan, baik dalam lingkungan kerja tim maupun dalam pengembangan usaha. Dengan demikian, nilai-nilai tradisional ini tidak hanya relevan dalam konteks sosial budaya, tetapi juga dapat menjadi landasan dalam merumuskan pendekatan kerja yang lebih berkelanjutan dan harmonis di era modern.
Copyrights © 2024