Perantau Bugis hadir dalam berbagai narasi sejarah. Setiap sejarawan tentu memiliki cara yang berbeda dalam proses penarasiannya. Narasi sejarah tersebut melahirkan berbagai pengertian tentang perantau Bugis. Salah satu pengertian yang sering dilekatkan oleh para sejarawan terhadap perantau Bugis adalah lekat dengan kehidupan bahari. Penelitian ini mengkaji bagaimana sejarawan menghadirkan perantau Bugis dalam narasi sejarahnya. Penelitian ini memakai model penelitian narasi sejarah yang dikembangkan oleh Hayden White. Ada tiga konsep Hayden White yang dipakai dalam penelitian ini, yaitu konsep “representasi”, “individu”, dan “moral”. Konsep-konsep tersebut digunakan sebagai perangkat teoretis untuk menganalisis empat teks sejarah tentang perantau Bugis yang telah dipilih. Hasil analisis tersebut sekaligus menjadi kritik historiografi. Melalui penelitian ini, ditemukan bahwa setiap sejarawan memiliki identifikasi yang berbeda tentang perantau Bugis dalam setiap narasinya. Orang Bugis di Johor diidentifikasi lekat dengan kekuasaan oleh Kesuma. Orang Bugis di Bali diidentikkan dengan perdagangan oleh Suwitha. Orang Bugis di Kamal Muara lekat dengan nelayan menurut Said dan Prabowo. Terakhir, orang Bugis di Ambon diidentikkan dengan Islam oleh Soleh. Setiap sejarawan memiliki posisi yang berbeda dalam menarasikan perantau Bugis. Kecenderungan kesimpulan mereka tidak lepas dari latar belakang mereka masing-masing.
Copyrights © 2024