Artikel ini membahas respons masyarakat muslim terhadap populisme Islam di Kota Makassar. Tujuan penulisan artikel ini yakni untuk mengetahui respons respons masyarakat muslim terhadap populisme Islam di Kota Makassar. Artikel ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan survei atas respons (afeksi dan konasi) masyarakat Muslim Makassar terhadap beberapa indikator populisme Islam. Populasi survei adalah masyarakat Muslim yang secara administratif merupakan warga Kota Makassar yang ditunjukkan dengan KK dan KTP. Penentuan jumlah sampel menggunakan metode Slovin dengan galat duga 0,05 (5%), karenanya menghasilkan jumlah sampel sebanyak 400 responden. Responden tersebut diambil dari 40 kelurahan yang dipilih secara acak, pada masing-masing kelurahan diambil 10 orang responden yang dibagi atas 5 laki-laki dan 5 perempuan. Penentuan responden dilakukan dengan metode acak dengan menggunakan pola kish grid pada kk yang terpilih pada setiap kelurahan. Survei menunjukkan bahwa Ahmadiyah lebih dikenal dibandingkan Syiah di Makassar Barat dan Timur, dengan tingkat pengenalan lebih tinggi di Makassar Timur. Resistensi masyarakat terhadap kelompok minoritas ini relatif rendah, mencerminkan penerimaan yang cukup baik, terutama di kalangan berpendidikan tinggi. Pengetahuan tentang Syiah lebih tinggi di usia muda (17-35 tahun), sedangkan Ahmadiyah lebih dikenal di usia dewasa (36-55 tahun). Sebagian besar responden bersikap netral terhadap tindakan intoleran seperti pembubaran kegiatan keagamaan, terutama pada kelompok usia menengah dan pendidikan menengah, meskipun proporsi kesediaan sedikit lebih tinggi pada pendidikan tinggi. Mayoritas responden, baik yang berafiliasi dengan ormas maupun tidak, lebih memilih untuk tidak terlibat dalam pembubaran kegiatan kelompok agama lain. Sikap ini menunjukkan resistensi rendah terhadap intoleransi, meskipun populisme dan radikalisme tetap menjadi tantangan sosial.
Copyrights © 2024