Para ilmuwan dan masyarakat umum sama-sama tertarik untuk memahami bagaimana pikiran, budaya, dan bahasa saling terkait. Salah pengertian terkait ini bisa memiliki konsekuensi serius: pembuat undang-undang membuat konstitusi yang menyesatkan, hakim memberlakukan putusan hukum yang salah dan menghukum orang yang tidak bersalah, dan pendidik menerapkan pedagogi yang tidak efektif. Relativisme dan mentalisme, kedua aliran utama dalam linguistik, telah ada dengan perbedaan tajam dalam menjelaskan hubungan antara pikiran, budaya, dan bahasa. Relativisme percaya bahwa bahasa mendahului, menentukan, dan memengaruhi atau membentuk pikiran, sedangkan mentalisme menghipotesiskan sebaliknya bahwa pikiranlah yang menciptakan dan mengubah bahasa. Artikel ini menggambarkan konsep teoritis dan bukti empiris yang mendasari kedua pandangan linguistik tersebut. Dengan menggunakan analisis komparatif dalam literatur, penelitian ini menemukan bahwa mentalisme memiliki pendekatan yang kuat dibandingkan dengan relativisme yang memiliki pendekatan yang lemah. Studi ini juga menyajikan implikasi bagi pembelajaran bahasa yang berakar pada konsepsi mentalisme.
Copyrights © 2024