Stroke non hemoragik disebabkan oleh gumpalan atau sumbatan lain pada arteri yang mengalir ke otak. Pada pasien terdapat kelemahan anggota gerak, dan parese nervus VII dan XII yang mengarah pada stroke non hemoragik. Masalah umum yang muncul pada penderita yaitu gangguan mobiltas fisik. Gangguan mobilitas fisik adalah keterbatasan dalam gerakan fisik dari satu atau lebih ekstremitas secara mandiri, sehingga dilakukan latihan ROM (Range of Motion) yang merupakan salah satu bentuk rehabilitasi yang dinilai efektif dalam mencegah kecacatan. Penelitian bertujuan mendeskripsikan pengelolaan gangguan mobilitas fisik dengan range of motion di Charlie Hospital. Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif bentuk studi kasus. Pendekatan yang digunakan yaitu pendekatan asuhan keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi. Hasil penelitian menunjukan pasien mengalami gangguan mobilitas fisik dari hasil pemeriksaan ekstremitas bagian kanan lemas, pada nervues hipoglosus, aksesorius dan fasialis bermasalah sehingga diberikan terapi selama 3 hari pengelolaan, pasien mengalami peningkatan dengan pemberian terapi ROM. Pada hari pertama pemeriksaan ekstremitas kanan didapati kekuatan otot memiliki skor 2, dan pada hari ketiga kekuatan otot memiliki skor 3. Hal ini menunjukan terdapat pengaruh pada pemberian terapi ROM pada pasien stroke non hemoragik yang mengalami gangguan mobilitas fisik. Saran untuk keluarga dengan pasien stroke non hemoragik agar menerapkan terapi ROM selama perawatan dirumah.
Copyrights © 2025