Di Indonesia tahun 2024 jumlah kasus DBD cenderung menunjukkan tren peningkatan, baik dari segi angka kasus maupun wilayah yang terdampak. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan terdapat 210.644 kasus dengan 1.239 kematian akibat DBD. Penanganan pasien DBD memerlukan waktu dan biaya yang cukup besar, Semakin lama masa rawat inap pasien, maka semakin besar biaya pengobatan di rumah sakit. Tujuan penelitian ini yaitu membandingkan biaya fee for service dengan tarif INA-CBGs pada pasien rawat Inap DBD di RSUD Mampang Prapatan. Metode penelitian ini menggunakan metode pendekatan analisis deskriptif kuantitatif. Sampel penelitian ini adalah pasien rawat inap DBD sebanyak 416 pasien yang terklaim pada billing system. Hasil penelitian menunjukan total tarif fee for service sebesar Rp 781.313.562, dan total tarif INA-CBGs sebesar Rp 683.752.900. Sehingga didapatkan selisih negatif dengan total selisih sebesar Rp. - 97.560.662, dengan rata – rata selisih sebesar Rp. - 6.280.900. Hal ini menunjukan adanya perbedaan total biaya serta selisih biaya, yang mana biaya yang dikeluarkan rumah sakit tidak sepenuhnya terakomodasi oleh klaim tarif INA-CBGs, sehingga rumah sakit harus menanggung selisih biaya yang cukup signifikan
Copyrights © 2025