Artikel ini mengonseptualisasikan komunikasi politik—sufistik sebagai suatu bentuk interaksi yang khas, di mana para sufi dapat menjaga eksistensi mereka dalam pusaran kekuasaan tanpa kehilangan kedekatan dengan masyarakat. Melalui kajian pustaka sistematis yang melibatkan 21 artikel dalam indeks Scopus, artikel ini membuka wawasan tentang bagaimana komunikasi politik—sufistik dapat berfungsi sebagai jembatan antara kekuatan spiritual dan kekuasaan politik. Sintesis dari berbagai artikel menunjukkan bahwa komunikasi politik-sufistik melibatkan relasi kuasa vertikal dan horizontal dengan elemen kosmopolitan dan esoterisme. Relasi vertikal menggambarkan hierarki kekuasaan, dimana menjelaskan peran para sufi sebagai perantara kekuasaan. Relasi horizontal menekankan keterlibatan sosial sufi di masyarakat, dengan modal spiritual yang dianggap sepadan dengan modal politik. Faktor lainnya terkait dengan waktu dan kehidupan, dimana walaupun telah tiada, seorang sufi dianggap memiliki kekuatan politik. Komunikasi politik-sufistik sering disampaikan melalui media sastra dengan unsur esoteris, bersifat rahasia dan eksklusif, hanya dipahami oleh kalangan sufi. Hal ini memungkinkan mereka berkembang tanpa mengganggu kekuasaan yang ada. Artikel ini juga menawarkan pandangan untuk penelitian lebih lanjut dengan berbagai metodologi guna memahami fenomena kelompok sufi dalam konteks kekuasaan, serta mengaitkan dinamika ini dengan isu-isu kontemporer seperti modernisme dan salafisme. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam memahami dinamika politik Islam di era modern.
Copyrights © 2025