Era pascapandemi mengubah relasi interpersonal ke ruang digital dan memunculkan kedekatan emosional baru, khususnya pada individu queer yang membangun relasi virtual. Kajian film Indonesia masih didominasi representasi identitas seksual dan diskriminasi sosial, sementara konstruksi memori emosional, mediated intimacy, dan queer temporality melalui audiovisual masih jarang. Penelitian ini menganalisis konstruksi audiovisual memori dan queer temporality dalam film pendek Where All The Waves Go dengan pendekatan practice-based research kualitatif reflektif. Data berasal dari dokumentasi pengembangan ide, naskah, reading, simbol visual, mise-en-scène, ruang urban, dan evaluasi artistik produksi-pascaproduksi. Hasil menunjukkan symbolic objects seperti Polaroid, wardrobe, bucket list, dan stiker “Please Don’t Leave Your Belongings Behind” merepresentasikan keterikatan emosional, memory hoarding, dan temporalitas queer pascapandemi. Ruang urban Jakarta dan temporal editing membangun emotional immersion yangmenguatkan pengalaman kehilangan dan closure. Penelitian berkontribusi pada Creative Media Indonesia, khususnya cinematic emotional memory, queer temporality, dan penelitian berbasis karya audiovisual.
Copyrights © 2025