Pendopo Gubernur Aceh yang dibangun pada tahun 1880 M sekarang menjadi Rumah Dinas Gubernur Aceh. Pendopo ini memiliki luas 7.150 meter persegi yang menghadap ke arah utara dan memiliki panjang 20 meter serta lebar 7 meter. Bahan kayu yang digunakan oleh Belanda untuk membangun bangunan ini dibawa langsung dari Kalimantan. Letnan Jenderal K. Vander Heijden diangkat menjadi gubernur pada tahun 1877 dan juga bertugas sebagai panglima militer dan sipil untuk merencanakan ekspansi Belanda di Aceh. Dia juga menjadi panglima militer dan sipil pertama untuk Aceh, dan dia adalah penghuni pertama pendopo ini. Orang Aceh menyebut letnan ini "Jenderal Bermata Sebelah" karena cedera tertembus peluru di sebelah bola matanya saat bertempur di Samalanga. Bangunan ini menampung total dua puluh dua petinggi Belanda. Bangunan ini secara keseluruhan menunjukkan perpaduan antara arsitektur tradisional dan arsitektur Eropa, seperti yang ditunjukkan oleh penggunaan ornamen hias pada setiap bangunan dan penggunaan elemen arsitektur Eropa. Bahan dasar bangunan yang didominasi oleh kayu. Gaya arsitekturnya terlihat dari gerbang pintu dan jendelanya yang tinggi dan lebar serta kelengkapan interiornya yang dihiasi dengan kaca-kaca yang indah
Copyrights © 2024