Keinginan pemerintah untuk mengeluarkan masyarakat nelayan dari tekanan-tekanan sosial-ekonomi yang dihadapi masyarakat nelayan pada umumnya, berakar pada beberapa faktor yang kompleks yang saling terkait. Faktor tersebut tidak hanya berkaitan dengan fluktuasi musim-musim penangkapan ikan, keterbatasan sumber daya manusia, modal serta akses, jaringan perdagangan ikan yang eksploitatif terhadap nelayan sebagai produsen. Dengan mengeluarkan kebijakan modernisasi perikanan (revolusi biru) diharapkan agar dapat memacu tingkat produksi dan keuntungan ekonomi secara maksimal bagi masyarakat nelayan, dengan pertimbangan bahwa jika terjadi peningkatan produksi penangkapan akan terjadi peningkatkan kesejahteraan nelayan. Ternyata penggunaan teknologi penangkapan yang canggih belum bisa mengangkat masyarakat nelayan keluar dari tekanan-tekanan sosial-ekonomi tersebut. Tulisan ini tujuannya melihat modernisasi perikanan (revolusi biru) dan implikasinya terhadap kemiskinan nelayan. Dengan fokus bahasanya pada modernisasi perikanan memunculkan adanya polarisasi ekonomi nelayan dengan mengelompoknya nelayan pemilik dan nelayan non pemilik alat produksi (buruh) dan relasi antara keduanya (tentang sistem bagi hasil). Bagian akhir tulisan mencoba mengulas bagaimana dampak modernisasi perikanan terhadap degradasi ekologi laut
Copyrights © 2025