Interaksi antarbudaya dan antariman di era globalisasi memunculkan tantangan baru, termasuk polarisasi sosial dan konflik berbasis identitas. Penelitian ini mengeksplorasi peran generasi muda dan integrasi kearifan lokal dalam memperkuat gerakan ekumenis di Indonesia. Dengan pendekatan kualitatif studi kasus, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan 30 mahasiswa aktif dalam gerakan ekumenis, observasi partisipatif, analisis dokumen, dan Focus Group Discussion (FGD) bersama pemuka agama dan tokoh adat. Hasil menunjukkan bahwa generasi muda memainkan peran strategis dalam gerakan ekumenis sebagai fasilitator dialog digital, inovator program, dan jembatan antargenerasi. Mereka memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan pesan toleransi dan mengembangkan platform dialog antariman. Selain itu, seni dan budaya, seperti festival lintas iman, menjadi medium efektif untuk menjembatani perbedaan. Namun, tantangan utama meliputi skeptisisme terhadap institusi keagamaan tradisional dan kurangnya pemahaman nilai lokal. Integrasi kearifan lokal, seperti gotong royong, musyawarah, dan toleransi, ke dalam pendidikan agama Kristen ditemukan mampu mendukung harmoni sosial. Pendekatan ini membutuhkan metode pembelajaran yang inovatif agar relevan dengan generasi digital. Penelitian ini merekomendasikan pengembangan kurikulum pendidikan ekumenis berbasis nilai-nilai lokal untuk menginternalisasi toleransi dan dialog lintas agama. Kesimpulannya, pendidikan ekumenis berbasis kearifan lokal menawarkan solusi kontekstual untuk memperkuat gerakan ekumenis dan membangun harmoni sosial di Indonesia. Generasi muda, dengan karakter dinamis mereka, menjadi motor penggerak utama dalam menjawab tantangan globalisasi melalui pendidikan yang inklusif dan berorientasi masa depan.
Copyrights © 2025