Polifarmasi atau penggunaan banyak obat dalam satu resep, sering terjadi pada pasien dengan penyakit kronis seperti hipertensi, dan berpotensi meningkatkan risiko interaksi obat yang signifikan. Penelitian ini berupa penelitian retrospektif dengan menggunakan data resep polifarmasi dan non-polifarmasi obat antihipertensi pada pasien rawat jalan di RSUD Perdagangan selama periode Januari hingga Juni 2024. Sampel yang digunakan sebanyak 200 resep antihipertensi pasien rawat jalan yang terbagi atas 100 resep polifarmasi dan 100 resep non-polifarmasi, yang ditentukan melalui teknik purposive sampling dan dipilih berdasarkan kriteria inklusi. Interaksi obat di cek melalui Micromedex, Drugs.com Interaction Checker, dan Medscape. Selanjutnya, analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square dengan bantuan perangkat lunak SPSS untuk melihat hubungan antara variabel dengan p-value < 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi interaksi obat antihipertensi pada resep polifarmasi lebih tinggi (89%) dibandingkan dengan resep non-polifarmasi (50%). Namun, dari hasil analisis statistik tidak ada hubungan yang signifikan antara polifarmasi dan non-polifarmasi dengan potensi interaksi obat antihipertensi serta tingkat keparahannya berdasarkan signifikansi klinis (p-value > 0,05). Kesimpulannya, polifarmasi tidak selalu memiliki dampak pada peningkatan potensi interaksi obat dan tingkat keparahan interaksinya.
Copyrights © 2024