Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh perbedaan kelompok bobot badan terhadap status fisiologis domba Priangan setelah transportasi jangka pendek. Transportasi dalam industri peternakan dapat menimbulkan stres yang berdampak pada keseimbangan energi dan fungsi fisiologis hewan. Selama transportasi, domba tidak mendapatkan pakan dan air, yang memicu mobilisasi cadangan energi serta peningkatan suhu tubuh. Penelitian melibatkan 23 ekor domba Priangan jantan berusia 12–14 bulan yang dikelompokkan berdasarkan bobot badan: P1 (<20 kg), P2 (20–21 kg), P3 (21–22 kg), dan P4 (>22 kg). Domba-domba tersebut ditransportasikan menggunakan mobil bak terbuka selama sekitar 2 jam tanpa air dan pakan. Parameter yang diukur meliputi susut bobot badan, suhu rektal, denyut jantung, dan laju pernapasan, baik sebelum maupun sesudah transportasi. Data dianalisis menggunakan analisis varians (ANOVA) dan uji jarak berganda Duncan. Hasil menunjukkan adanya perbedaan signifikan (p = 0,015) pada susut bobot badan, di mana domba dengan bobot lebih tinggi (P3 dan P4) mengalami penurunan massa tubuh yang lebih besar dibandingkan kelompok dengan bobot lebih rendah (P1 dan P2). Sebaliknya, perubahan suhu rektal (p = 0,148), denyut jantung (p = 0,678), dan laju pernapasan (p = 0,173) tidak berbeda secara signifikan antar kelompok. Kesimpulannya, bobot badan domba berpengaruh terhadap susut bobot setelah transportasi jangka pendek, sementara respons fisiologis lainnya relatif seragam. Temuan ini menekankan pentingnya manajemen transportasi yang efektif, termasuk pengaturan kepadatan dan penyediaan pakan serta air, untuk meminimalkan dampak negatif stres transportasi pada domba Priangan.
Copyrights © 2024