Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji integrasi kearifan lokal, khususnya penggunaan bahasa Sangihe dalam liturgi gereja di Sangihe, sebagai strategi misi inklusif yang menghubungkan iman Kristen dengan budaya lokal. Penelitian ini juga bertujuan untuk menggali manfaat penggunaan bahasa daerah dalam memperdalam pemahaman rohani jemaat khususnya pemuda, serta melestarikan identitas budaya lokal di tengah pengaruh globalisasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan observasi lapangan, wawancara mendalam, dan studi literatur terkait inkulturasi agama dan budaya. Temuan penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahasa Sangihe dalam liturgi gereja meningkatkan pemahaman jemaat terhadap ajaran Kristen dan memperkuat hubungan mereka dengan budaya lokal. Selain itu, pengintegrasian simbol-simbol dan ritus budaya Sangihe dalam ibadah memperkaya pengalaman rohani dan menjaga keberlanjutan tradisi. Namun, tantangan yang dihadapi meliputi keterbatasan kosakata teologis dalam bahasa lokal dan potensi misinterpretasi simbol budaya. Kesimpulannya, integrasi bahasa Sangihe dalam liturgi gereja adalah pendekatan yang efektif untuk menjaga relevansi agama dengan budaya lokal dan memperkuat identitas budaya, serta perlu adanya pengembangan kamus teologi dalam bahasa daerah untuk mengatasi keterbatasan tersebut.
Copyrights © 2024