Penelitian ini mengeksplorasi signifikansi komunikasi lisan tertulis dalam konteks sejarah kriptografi, khususnya selama agresi Belanda di Indonesia pasca-proklamasi kemerdekaan pada bulan Agustus 1945. Meskipun Indonesia telah mendeklarasikan kemerdekaan, kedaulatan negara tersebut belum diakui, dan pendudukan Belanda masih berkuasa. Ibu kota Jakarta diduduki kembali oleh Belanda, yang mendorong pemindahan sementara pemerintah Indonesia ke Yogyakarta. Pergeseran ini menyebabkan Yogyakarta menjadi pusat kegiatan nasional. Dalam latar belakang ini, Museum Sandi, pusat kriptografi dan pengkodean, memainkan peran penting dalam memfasilitasi komunikasi lisan tertulis di antara kekuatan nasionalis. Penelitian ini menyelidiki signifikansi historis museum, meneliti bagaimana komunikasi lisan tertulis digunakan sebagai alat strategis untuk perlawanan dan negosiasi selama periode yang penuh gejolak. Lebih jauh, penelitian ini menyelidiki potensi penerapan strategi komunikasi historis ini di masa kontemporer, menyoroti relevansinya di era komunikasi digital saat ini.
Copyrights © 2024