PESHUM
Vol. 3 No. 6: Oktober 2024

A’matoang dan Dampak Sosial Pada Prosesi Pernikahan Masyarakat Makassar: Studi Kasus Di Masyarakat Dataran Tinggi Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan

St. Junaeda (Unknown)



Article Info

Publish Date
30 Oct 2024

Abstract

Berpikir historis merupakan keterampilan yang sangat penting dalam pembelajaran sejarah, khususnya bagi siswa yang mempelajari disiplin ilmu ini. Salah satu tantangan utama dalam pendidikan sejarah saat ini adalah kurangnya penguasaan keterampilan berpikir historis di kalangan siswa. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan urgensi keterampilan berpikir historis bagi siswa dalam mempelajari sejarah. Melalui pengembangan berpikir historis, siswa mampu mempelajari sejarah dengan cara yang lebih bermakna, serta memperoleh keterampilan analisis yang relevan dengan tantangan dunia modern. Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka untuk menggambarkan pentingnya berpikir historis dalam pembelajaran sejarah dan memberikan rekomendasi strategis bagi para pendidik untuk mengintegrasikan konsep ini ke dalam pengajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penguatan keterampilan berpikir historis dapat membantu siswa memahami sejarah sebagai disiplin ilmu yang dinamis dan relevan dengan kehidupan kontemporer, sehingga mendorong mereka untuk menjadi individu yang lebih kritis, reflektif, dan berkontribusi positif bagi masyarakat.This research is field research using qualitative data. The subjects of this research are the people of Makassar as cultural actors and the subjects of A’matoang, as one of the processions in Makassar ethnic wedding. Preliminary data shows that the social impacts arising from the A’matoang procession in the highland communities of Gowa Regency are simplified into two categories. First: Direct impact, (1) verbal rejection (accepting the gift) from the groom's family; (2) the emergence of offense on the part of the groom's family, who are forced to accept the gift of goods, due to economic limitations; (3) material changes occur, from household goods to money; and (4) the practice of suicide among brides (women), due to a misunderstanding in giving meaning to the word Ammaliangnggang as a response to the A’matoang procession. Second: Indirect impacts, (1) there is a compromise between the bride and groom's families, when agreeing to start the wedding procession; and (2) there are no concrete guidelines regarding wedding processions in Makassar society.The social impact of the A’matoang procession is a sign that Makassar ethnic wedding processions do not have to comply with traditional rules. The wedding procession continues to be constructed by cultural actors themselves. The sequence of the wedding procession can be compromised, so as to make things easier for both sides of the bride and groom's family.

Copyrights © 2024






Journal Info

Abbrev

PESHUM

Publisher

Subject

Humanities Education Social Sciences

Description

PESHUM: Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Humaniora diterbitkan oleh CV. ULIL ALBAB CORP. PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Humaniora menerbitkan artikel bidang: (1) Pendidikan: Pendidikan dan Pembelajaran, Pendidikan Karakter, Pendidikan Inklusi, Kurikulum Pendidikan. (2) Sosial: Ekonomi, ...