Kabupaten Ponorogo merupakan salah satu daerah utama penghasil kunyit di Jawa Timur dengan luas lahan mencapai 431,3 hektar. Namun, siklus panen yang relatif panjang (9–10 bulan) serta harga jual yang rendah (Rp 2.000–Rp 3.000 per kilogram) menjadi tantangan bagi petani kunyit. Untuk meningkatkan produktivitas dan nilai jual kunyit, Pemerintah Kabupaten Ponorogo bekerja sama dengan Kementerian Desa dan PT. Astra serta menunjuk UD. Perdana sebagai pengusaha lokal (local champion) yang membina petani kunyit. Sebagai langkah transformasi ekonomi, diperlukan inovasi dalam pengolahan kunyit menjadi produk bernilai tambah. Salah satu upaya yang dilakukan adalah pengembangan teh herbal berbahan dasar kunyit. Produk ini diformulasikan dengan kombinasi bubuk kunyit kering, bubuk jahe, bubuk lemon, dan bubuk serai. Hasil uji formulasi menunjukkan komposisi terbaik terdiri dari bubuk kunyit 1,5 gram, bubuk jahe 0,9 gram, bubuk serai 0,15 gram, dan bubuk lemon 0,45 gram. Studi kelayakan menunjukkan bahwa investasi ini layak dengan nilai NPV sebesar Rp 41.007.927, payback period selama 8,26 bulan, IRR sebesar 2,08%, dan B/C ratio sebesar 8,07. Dengan demikian, pengembangan produk teh herbal kunyit ini berpotensi meningkatkan kesejahteraan petani kunyit di Kabupaten Ponorogo.
Copyrights © 2025