Budaya dapat saja mempengaruhi dan memberi perubahan dalam kehidupan masyarakat. Khususnya dalam budaya Toraja yang memiliki salah satu tradisi yaitu Upacara adat Rambu Solo’ yang merupakan upacara adat kematian yang begitu mewah dan meriah, baik melalui dekorasi, hewan yang di sembelih dan makanan yang dihidangkan yang begitu mewah. Melalui hal yang seperti itu sehingga masyarakat Toraja menyebutkan bahwa pergi ke rumah duka dengan istilah pergi ma’pesta. Penggunaan kata pesta dalam Rambu Solo’ merupakan kata atau bahasa yang sering digunakan oleh orang Toraja dalam kehidupan mereka. Dalam suku Toraja Rambu Solo’ merupakan upacara kematian orang Toraja, sedangkan pesta merujuk kepada suatu kemeriahan, kebahagiaan dan sebagainya. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberi pemahaman kepada masyarakat Toraja tentang makna teologis dan sosiologis penggunaan kata pesta dalam acara Rambu Solo’. Sehingga penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka dan melakukan wawancara untuk memberikan penjelasan terkait peneliti dengan topik penelitian. Berdasarkan hasil pembahasan maka kesimpulannya adalah kata pesta tidak dapat digunakan di acara Rambu Solo’. Melainkan ketika orang Toraja pergi ke rumah duka maka mereka akan berkata male tongkon, bukan pergi pesta. Karena tongkon berarti duduk bersama dengan keluarga yang berduka. Hal itu dapat terjadi melalui proses perubahan dalam budaya Toraja.
Copyrights © 2024