Dalam tulisan ini, penulis melakukan penelitian terkait apa makna Teologis-Sosiologis simbol Daro-daro dalam ritus Rambu Solo’ dan implikasinya bagi masyarakat Bori’. Simbol Daro-daro atau disebut juga Paningoan bombo dipercaya sebagai media menyatakan cinta kepada arwah/bombo-bombo keluarga yang telah meninggal. Apakah relasi tersebut masih relevan dipercayai orang percaya sekalipun merupakan bentuk cinta kepada keluarga yang telah meninggal. Dalam penulisan karya ilmiah ini, penulis menggunakan metode kualitatif, dengan pendekatan field research dengan melakukan wawancara terhadap Majelis Gereja, Pemerhati adat, masyarakat setempat/warga Jemaat dan Pemerintah setempat. Penulis memberikan beberapa pertanyaan sekaitan dengan topik yang penulis kaji dalam karya ilmiah ini. Penulis juga memakai library research untuk memperkuat argumen didalam tulisan ini. Berdasarkan fenomena yang terjadi, simbol Daro-daro digunakan sebagai media dalam berelasi dengan arwah atau bombo-bombo. Dalam hal ini, penulis melihat bahwa bukanlah semata-mata Daro-daro yang menjadi media untuk mengekspresikan relasi sukacita dengan arwah/bombo-bombo keluarga yang telah meninggal agar mereka turut disenangkan, akan tetapi Yesus Kristus-lah yang menjadi media ekspresi kebahagiaan dan sukacita sebagai orang percaya. Pengharapan akan kasih karunia Tuhan bagi mereka yang telah mendahului akan terus melekat dan dijiwai setiap orang percaya sehingga tidak ada lagi kegelisahan. Terlepas dari itu, dukacita tentunya akan dirasakan namun memori yang tersimpan akan terus menuntun manusia untuk dapat melihat teladan dari sikap hidup keluarga yang telah mendahului.
Copyrights © 2024