Penelitian ini menganalisis dimensi oikumenis dalam kepemimpinan Ezra dan Nehemia, dua tokoh kunci dalam pemulihan bangsa Israel pasca-pembuangan di Babel. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bagaimana kepemimpinan mereka menunjukkan prinsip-prinsip oikumenis seperti inklusivitas, toleransi, dan rekonsiliasi, serta mengungkap pembelajaran yang dapat diterapkan dalam dialog antar-gereja kontemporer. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan hermeneutik, dengan sumber data utama berupa kitab Ezra dan Nehemia dalam alkitab Ibrani. Analisis teks dilakukan dalam konteks historis dan teologis, serta dukungan oleh data sekunder berupa buku-buku teologi, komentar Alkitab, dan penelitian sebelumnya. Penelitian ini menemukan bahwa kepemimpinan Ezra dan Nehemia mencerminkan dimensi oikumenis melalui pendekatan inklusif, prinsip rekonsiliasi, dan pengutamaan tujuan bersama. Ezra menekankan pentingnya hidup sesuaidengan hukum Allah, sementara Nehemia berfokus pada pemulihan fisik dan sosial. Keduanya menunjukkan bahwa meskipun terdapat perbedaan namun fokus mereka adalah memuliahkan Israel sebagai umat Allah. Penelitian ini memberikan pembelajaran penting bagi dialog antar gereja kontemporer. Kepemimpinan Ezra dan Nehemia menunjukkan bahwa membangun dialog yang menghargai perbedaan, berfokus pada misi bersama, dan berusaha mencapai konsensus dalam kerjasama sebagai kunci untuk membangun gereja yang lebih bersatu.
Copyrights © 2025