Gerakan Indonesia Gelap muncul sebagai bentuk protes terhadap krisis anggaran pendidikan di Indonesia. Gerakan ini berkembang melalui berbagai platform digital dan aksi massa, membangun wacana yang menggugah kesadaran publik mengenai kebijakan pendidikan yang dianggap tidak memadai. Penelitian ini menganalisis penggunaan bahasa dalam wacana protes tersebut dengan pendekatan analisis wacana kritis. Data dikumpulkan dari unggahan media sosial, pernyataan aktivis, serta liputan berita terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan metafora, jargon, dan retorika persuasif menjadi strategi utama dalam membentuk opini publik dan memperkuat solidaritas gerakan. Selain itu, ditemukan bahwa wacana ini tidak hanya mengkritik kebijakan pemerintah, tetapi juga membangun narasi alternatif mengenai keadilan pendidikan. Penelitian ini berkontribusi dalam memahami bagaimana bahasa berperan dalam mobilisasi sosial serta dampaknya terhadap kebijakan publik.
Copyrights © 2025