Latar Belakang : World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa 2 dari 3 bayi tidak mendapatkan ASI Eksklusif dan hanya 41% bayi berusia 0-6 bulan yang mendapatkan ASI Eksklusif. Sebanyak 820.000 anak-anak bisa diselamatkan setiap tahunnya jika pada bulan pertama yaitu 0-23 bulan disusui secara optimal. Proporsi pola pemberian ASI di Indonesia pada bayi berumur 0-5 bulan pada tahun 2018 sebesar 37.3%. Pendapatan keluarga yang memadai akan membantu tumbuh kembang anak karena orang tua bertanggung jawab atas segala kebutuhan tumbuh kembang anak baik primer dan sekunder. Pendapatan sangat memengaruhi daya beli masyarakat begitupula perilaku konsumsi masyarakat dipengaruhi oleh interaksi antara faktor sosial budaya. Pertimbangan ekonomi memengaruhi tingkat pendapatan dan memengaruhi daya beli. Tujuan : Menganalisis studi pendapatan keluarga terhadap praktik pemberian ASI Eksklusif. Metode : Systematic Literature Review dengan mencari 10 studi penelitian dari 5 database (Pubmed, Science Direct, Google Schoolar, Elsevier, dan Proquest) dengan menggunakan randomized Control Trial, Eksperimental, dan Kohort, yang diterbitkan tahun 2016-2023. Hasil Peneltian : Pendapatan keluarga yang cukup meningkatkan praktik pemberian asi eksklusif sebesar 1.69 kali dibandingkan pendapatan keluarga yang tinggi, dengan signifikansi nilai p = 0.002 dan nilai heterogenitas data penelitian sebesar I2 = 73% sehingga penyebaran data dinyatakan heterogen (random effect model). Kesimpulan : Pendapatan keluarga yang cukup meningkatkan praktik pemberian asi eksklusif.
Copyrights © 2024