Kajian mengenai konstruksi pengetahuan dan realitas dalam peradaban Jawa Klasik, khususnya di Majapahit, masih tergolong terbatas dibandingkan diskursus mengenai aspek sosial, politik, dan keagamaan. Penelitian ini menganalisis konstruksi pengetahuan di Majapahit melalui NÄgaraká¹›tÄgama dan peran Dharmadyaká¹£a. Dengan pendekatan hermeneutika Ricoeur dan teori konstruksi sosial Berger & Luckmann, ditemukan bahwa pengetahuan Majapahit merupakan sintesis unik antara metafisik-religius (dharma) dan rasionalitas administratif. Dharmadyaká¹£a menjadi poros yang menyatukan otoritas spiritual dan politik, mengontrol transmisi pengetahuan melalui teks (prasasti, kakawin), lisan (wayang), dan institusi (biara, istana). Sistem hierarkis catur varna membatasi akses pengetahuan pada elite, sementara ritual dan hukum memperkuat legitimasi kekuasaan. Berbeda dengan Skolastik Eropa yang memisahkan iman-akal, Majapahit mengintegrasikannya dalam kerangka devarÄja (raja sebagai titisan dewa). Pengetahuan berfungsi sebagai instrumen politik untuk menjaga stabilitas sosial. Temuan ini menegaskan keunikan epistemologi Majapahit: sintesis spiritualitas Jawa Kuno dan pragmatisme kekuasaan, tanpa dikotomi Barat.
Copyrights © 2025