The former Kemayoran Airport is one of the historical buildings that holds significant historical value and potential for the Kemayoran area. However, with the development of the Kemayoran area, this building needs to be addressed and abandoned. If utilized, this building has historical potential and could serve as a space for the local community or the preservation of Betawi culture, which is indeed synonymous with Kemayoran itself. Moreover, Kemayoran has been designated as a business area and can be utilized as a new recreational area. By implementing the concept of adaptive reuse, it is hoped that a new face can be given to this area. By preserving the airport's memory and adding green spaces, the building can become multifunctional. The collaboration between two different functions can also become a characteristic of this building. The results of this study show that the adaptive reuse method can create a new place in the community. By combining the historical value of the Kemayoran area with its current environment, this building can have two main program functions that will be harmonious. The memory of Kemayoran Airport and the Cultural Field will provide a space for the community and a space for the history of Kemayoran Airport. This renewal can revive a valuable and forgotten history and create a new environment and space for the surrounding community and its users. Keywords: adaptive reuse; former Kemayoran Airport; placeless place Abstrak Bandara Lama Kemayoran merupakan salah satu bangunan bersejarah yang memiliki nilai sejarah serta potensi bagi kawasan Kemayoran. Namun, dengan seiring perkembangan daerah Kemayoran, bangunan ini di abaikan keberadaanya dan dibiarkan terbengkalai. Padahal jika dimanfaatkan bangunan ini memiliki potensi sejarah dan dapat menjadi wadah bagi komunitas sekitar ataupun pelestarian kebudayaan Betawi yang memang identik dengan Kemayoran sendiri. Selain itu, Kemayoran sendiri ditetapkan menjadi area bisnis dan dapat dimanfaatkan sebagai salah satu area rekreasi baru. Dengan penerapan konsep adaptive reuse diharapkan dapat memberikan wajah baru bagi kawasan ini. Dengan berfokus mempertahankan memori yang telah ada pada bandara ini dan menambahkan fasilitas ruang hijau dan terbuka menjadi bangunan multifungsi bagi lingkungan. Pemanfaatan sejarah dari kawasan juga menjadi salah satu dari pembaruan ini. Kolaborasi antara dua fungsi berbeda juga dapat menjadi salah satu ciri pada bangunan ini. Hasil dari penelitan ini menunjukan bahwa dengan metode adaptive reuse akan menghasilkan sebuah tempat baru di masyarakat. Dengan memadukan nilai sejarah dari kawasan Kemayoran dengan keadaan lingkungan ini dapat menciptakan bangunan ini akan memiliki dua fungsi profram utama yang akan di gabungkan secara harmonis. Memori Bandara Kemayoran dan Lapangan budaya akan menyedikan wadah bagi komunitas dan wadah bagi sejarah bandara kemayoran. Pembaruan ini juga dapat menghidupkan kembali sebuah sejarah yang berharga dan telah dilupakan, tetapi juga dapat menciptakan lingkungan dan ruang baru bagi masyarakat sekitar serta penggunanya.
Copyrights © 2024