Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

PENERAPAN HEALING THERAPEUTIC ARCHITECTURE PADA HUNIAN SEMENTARA PASIEN RAWAT JALAN DI KOTA BAMBU SELATAN Coananda, Jenny Aprillia; Sutisna, Sutarki
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27476

Abstract

Outpatient is a term used to describe someone who is undergoing a treatment process outside the hospital, so a temporary shelter is needed to help these outpatients, Shelter is a place to provide a sense of belonging, warmth, love, and security for patients and their companions, shelter can also be used as a place of daily activities, social gatherings, and physical buildings. South Bamboo City still lacks temporary housing for patients in need. Therefore, temporary housing is needed to help patients who live far from the hospital. The functions of temporary shelters are as a place to live and stay for sick people, as a patient information center, as a place for social workers, as a place for patients and their companions, as a place for early detection of disease, and as a temporary residence. Empathy Means putting yourself in someone else's shoes and feeling the emotions they feel. Using the Healing Therapeutic Architecture method, we can help outpatients both mentally and physically by providing the support and resources they need, using descriptive methods, qualitative approaches, and research management. The goal is to improve the physical and mental health of outpatients through program design, implementation, and to create a safe and comfortable living environment. Outpatients face many problems when they want to go to the hospital for treatment, so this temporary shelter can facilitate outpatients. Keywords: mental therapy; outpatient; physical therapy; purpose of temporary shelter; temporary shelter Abstrak Pasien rawat jalan merupakan sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang sedang menjalani proses pengobatan di luar rumah sakit, sehingga diperlukannya sebuah hunian sementara untuk membantu pasien rawat jalan tersebut, Hunian merupakan tempat untuk memberikan rasa memiliki, kehangatan, cinta, dan keamanan  bagi pasien dan pendampingnya, hunian juga dapat digunakan sebagai tempat aktivitas sehari-hari, pertemuan sosial, dan  bangunan fisik. Kota Bambu Selatan masih kekurangan hunian sementara bagi pasien yang membutuhkan. Oleh karena itu, hunian sementara sangat diperlukan untuk membantu pasien yang tinggal jauh dari rumah sakit. Fungsi hunian sementara adalah sebagai tempat tinggal dan tinggal bagi orang sakit, sebagai pusat informasi pasien, sebagai tempat pekerja sosial, sebagai tempat pasien dan pendampingnya, sebagai tempat deteksi dini penyakit, dan sebagai tempat tinggal sementara. Empati Berarti menempatkan diri sendiri pada posisi orang lain dan merasakan emosi yang mereka rasakan. Dengan menggunakan metode Healing Therapeutic Architecture, kami dapat membantu pasien rawat jalan baik secara mental maupun fisik dengan memberikan dukungan dan sumber daya yang mereka butuhkan, menggunakan metode deskriptif, pendekatan kualitatif, dan manajemen penelitian. Tujuannya untuk meningkatkan kesehatan fisik dan mental pasien rawat jalan melalui rancangan, implementasi program, dan untuk menciptakan lingkungan hidup yang aman dan nyaman. Pasien rawat jalan banyak menghadapi masalah ketika ingin melakukan perawatan ke rumah sakit, maka dengan adanya hunian sementara ini dapat memudahkan pasien rawat jalan.
PERAN ELEMEN WAYFINDING SEBAGAI SOLUSI PERMASALAHAN LANSIA DEMENSIA Tandanu, Fergie Christabelle; Sutisna, Sutarki
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27478

Abstract

Dementia generally affects elderly people aged 65 years and over, where care facilities for dementia are rarely provided. Difficulty in orienting and navigating in the environment, especially in familiar places, is a major challenge for people with dementia. The increasing number of elderly sufferers from year to year shows that this disease is very susceptible to attacking the elderly and emphasizes the urgency to find a solution. Wayfinding as a concept and method focusing on the human ability to orient and navigate in the environment has become a research target to improve spatial memory in dementia patients. This approach not only involves technical elements, but also emphasizes the importance of empathy and understanding of the lived experiences of dementia patients. By considering the wayfinding element, this research shows that facilities adapted to their emotional and cognitive needs can act as a place to organize health programs that are more secure, provide care for the relationship between memory, memory, time and a better experience of space, provide comfort, and makes navigation easier, thereby helping them to live their daily lives with a greater level of independence and meaning. Keywords:  dementia; elderly; element; wayfinding Abstrak Demensia umumnya diderita oleh lansia berusia 65 tahun ke atas, dimana fasilitas perawatan untuk demensia masih jarang disediakan. Kesulitan dalam berorientasi dan bernavigasi di lingkungan, terutama pada tempat yang akrab, menjadi tantangan utama bagi penyandang demensia. Meningkatnya jumlah penderita lansia dari tahun ke tahun menunjukkan bahwa penyakit ini sangat rentan menyerang lansia dan menekankan urgensi untuk mencari solusi. Wayfinding sebagai konsep dan metode berfokus pada kemampuan manusia untuk berorientasi dan bernavigasi di lingkungan telah menjadi target penelitian untuk meningkatkan memori spasial pada pasien demensia. Pendekatan ini tidak hanya melibatkan elemen teknis, tetapi juga menekankan pentingnya empati dan pengertian terhadap pengalaman hidup pasien demensia. Dengan mempertimbangkan elemen wayfinding, penelitian ini menunjukkan bahwa fasilitas yang disesuaikan dengan kebutuhan emosional dan kognitif mereka dapat berperan sebagai tempat menyelenggarakan program kesehatan yang lebih terjamin keamanannya, memberikan perawatan hubungan antara memori, ingatan, waktu serta pengalaman ruang yang lebih baik, memberikan kenyamanan, dan memudahkan navigasi, sehingga membantu mereka untuk hidup sehari-hari dengan tingkat kemandirian dan makna yang lebih baik.
PENGARUH HEALING ENVIRONMENT TERHADAP PEMULIHAN PASIEN ADIKSI NARKOBA DI SENTUL Halim, Grady Fornathan; Sutisna, Sutarki
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27479

Abstract

The rehabilitation of drug addiction plays a vital role in aiding the recovery of patients addicted to narcotics, yet challenges persist in creating an environment conducive to well-being and recovery. The healing environment is recognized as a crucial factor in facilitating the physical, social, and psychological recovery process. This research aims to identify the influence of a healing environment on the well-being and recovery of drug addiction patients using a literature review approach. Relevant data was gathered from journals, books, theses, and internet sources. Data analysis was conducted to manage information that would serve as a guide in developing drug rehabilitation facilities prioritizing a holistic healing environment. The study demonstrates the importance of a healing environment in designing drug rehabilitation centers. Factors such as physical design, spatial arrangement, integration with nature, natural lighting, and social support are identified as key elements that enhance the well-being and recovery of drug addiction patients. With various natural facilities and green open spaces available, Sentul holds potential as an environment supportive of implementing the concept of a healing environment. Infrastructure that enables outdoor activities and engagement with nature can be crucial in facilitating the recovery process of drug addiction patients in that area. This research will result in a design concept for a drug rehabilitation center, constructing a physical atmosphere aligned with the needs of behavioral design. The design outcome will encompass the entirety of buildings, both indoor and outdoor spaces Keywords:  drug addiction; healing environment; recovery; rehabilitation center Abstrak Rehabilitasi narkoba berperan vital dalam membantu pemulihan pasien adiksi narkotika, namun tantangan dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kesejahteraan dan pemulihan masih ada. Lingkungan penyembuhan diakui sebagai faktor penting dalam memfasilitasi proses pemulihan secara fisik, sosial, dan psikologis. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pengaruh healing environment terhadap kesejahteraan dan pemulihan pasien adiksi narkoba dengan menggunakan pendekatan studi literatur. Data relevan dikumpulkan dari jurnal, buku, skripsi, dan sumber internet. Analisis data dilakukan untuk mengelola informasi yang nantinya akan menjadi pedoman dalam pengembangan bangunan rehabilitasi narkoba yang mengutamakan lingkungan penyembuh secara holistik. Studi ini memperlihatkan pentingnya healing environment dalam merancang rehabilitasi narkoba. Faktor-faktor seperti desain fisik, pengaturan ruangan, integrasi dengan alam, pencahayaan alami, dan dukungan sosial diidentifikasi sebagai elemen kunci yang meningkatkan kesejahteraan dan pemulihan pada pasien adiksi narkoba. Dengan berbagai fasilitas alam dan ruang terbuka hijau yang ada, Sentul memiliki potensi sebagai lingkungan yang mendukung penerapan konsep healing environment. Infrastruktur yang memungkinkan aktivitas luar ruangan dan keterlibatan dengan alam dapat menjadi aspek penting dalam memfasilitasi proses pemulihan pasien adiksi narkoba di daerah tersebut. Dari penelitian ini akan dihasilkan sebuah konsep desain tempat rehabilitasi narkoba, dengan membangun suasana fisik yang menyesuaikan dengan kebutuhan perilaku perancangan ini. Hasil desain akan mencangkup bangunan, ruang luar dan dalam secara keseluruhan.
COLLABORATIVE-HUB SEBAGAI UPAYA MENGENANG KAWASAN HARMONI Dewi, Jessica Christiani; Sutisna, Sutarki
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30893

Abstract

The Harmoni area is an area that is getting busier every day and is an active commercial area. This area has a collection of history that cannot be felt by the current generation. Some points in this place are very dark and vulnerable when all offices and shops are closed at night. Many old buildings are empty and abandoned. This area has the potential to become an old city area that provides a new sense of nostalgic space for each generation and can also function as a place of entertainment for the surrounding and outside communities. The historical value of this area is increasingly eroded, which should be a lesson for the community about how the city of Jakarta got here. This study discusses efforts to preserve abandoned historical areas through continuous restoration in accordance with technological advances and the times to suit the current generation by conducting observations, collecting and analyzing data at the location. By adapting activities in places that have been done before, such as including public spaces, gathering places, or party places and utilizing the potential of areas that have good accessibility considering that this area has the largest transit point in Jakarta so that the area can keep up with the times. This activity is implemented in an empty land located on Jalan Juanda which is within a radius of 150 meters from the Harmoni node. This implementation aims to restore the character of the area that has been degraded so that it comes back to life and is crowded with visitors. Keywords: harmoni; location; public area; transit Abstrak Kawasan Harmoni merupakan daerah yang semakin ramai setiap hari dan merupakan area komersial yang aktif. Wilayah ini memiliki sekumpulan sejarah yang tidak dapat dirasakan oleh generasi saat ini. Beberapa titik di tempat ini sangat gelap dan rawan pada saat semua perkantoran dan toko tutup di malam hari. Banyak bangunan lama yang kosong dan terbengkalai. Wilayah ini berpotensi menjadi kawasan kota lama yang memberikan perasaan ruang nostalgia baru bagi setiap generasi dan juga dapat berfungsi sebagai tempat hiburan bagi komunitas sekitar dan luar. Nilai sejarah dari wilayah ini semakin tergerus, yang seharusnya dapat menjadi pelajaran bagi masyarakat tentang bagaimana kota Jakarta sampai di sini. Penelitian ini membahas tentang upaya untuk melestarikan wilayah bersejarah yang telah ditinggalkan melalui pemulihan yang berkesinambungan sesuai dengan kemajuan teknologi dan zaman agar sesuai dengan generasi sekarang dengan cara melakukan observasi, mengumpulkan dan menganalisis data pada lokasi. Dengan mengadaptasi aktivitas-aktivitas pada tempat-tempat yang pernah dilakukan sebelumnya seperti memasukan ruang publik, tempat berkumpul, atau tempat berpesta serta memanfaatkan potensi dari kawasan yang memiliki aksesibilitas yang baik mengingat kawasan ini memiliki titik transit terbesar di Jakarta sehingga kawasan dapat mengikuti perkembangan zaman. Aktivitas ini dterapkan dalam lahan kosong yang berlokasi di Jalan Juanda yang berada dalam radius 150 meter dari simpul Harmoni. Penerapan ini bertujuan untuk mengembalikan kembali karakter kawasan yang telah mengalami degradasi agar kembali hidup dan ramai pengunjung.
ADAPTIVE REUSE SEBAGAI UPAYA MEMBANGKITKAN KEMBALI MEMORI EX - BANDARA KEMAYORAN Fitria, Faniatus Salma; Sutisna, Sutarki
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30894

Abstract

The former Kemayoran Airport is one of the historical buildings that holds significant historical value and potential for the Kemayoran area. However, with the development of the Kemayoran area, this building needs to be addressed and abandoned. If utilized, this building has historical potential and could serve as a space for the local community or the preservation of Betawi culture, which is indeed synonymous with Kemayoran itself. Moreover, Kemayoran has been designated as a business area and can be utilized as a new recreational area. By implementing the concept of adaptive reuse, it is hoped that a new face can be given to this area. By preserving the airport's memory and adding green spaces, the building can become multifunctional. The collaboration between two different functions can also become a characteristic of this building. The results of this study show that the adaptive reuse method can create a new place in the community. By combining the historical value of the Kemayoran area with its current environment, this building can have two main program functions that will be harmonious. The memory of Kemayoran Airport and the Cultural Field will provide a space for the community and a space for the history of Kemayoran Airport. This renewal can revive a valuable and forgotten history and create a new environment and space for the surrounding community and its users. Keywords:   adaptive reuse; former Kemayoran Airport; placeless place Abstrak Bandara Lama Kemayoran merupakan salah satu bangunan bersejarah yang memiliki nilai sejarah serta potensi bagi kawasan Kemayoran. Namun, dengan seiring perkembangan daerah Kemayoran, bangunan ini di abaikan keberadaanya dan dibiarkan terbengkalai. Padahal jika dimanfaatkan bangunan ini memiliki potensi sejarah dan dapat menjadi wadah bagi komunitas sekitar ataupun pelestarian kebudayaan Betawi yang memang identik dengan Kemayoran sendiri. Selain itu, Kemayoran sendiri ditetapkan menjadi area bisnis dan dapat dimanfaatkan sebagai salah satu area rekreasi baru. Dengan penerapan konsep adaptive reuse diharapkan dapat memberikan wajah baru bagi kawasan ini. Dengan berfokus mempertahankan memori yang telah ada pada bandara ini dan menambahkan fasilitas ruang hijau dan terbuka menjadi bangunan multifungsi bagi lingkungan. Pemanfaatan sejarah dari kawasan juga menjadi salah satu dari pembaruan ini. Kolaborasi antara dua fungsi berbeda juga dapat menjadi salah satu ciri pada bangunan ini. Hasil dari penelitan ini menunjukan bahwa dengan metode adaptive reuse akan menghasilkan sebuah tempat baru di masyarakat. Dengan memadukan nilai sejarah dari kawasan Kemayoran dengan keadaan lingkungan ini dapat menciptakan bangunan ini akan memiliki dua fungsi profram utama yang akan di gabungkan secara harmonis. Memori Bandara Kemayoran dan Lapangan budaya akan menyedikan wadah bagi komunitas dan wadah bagi sejarah bandara kemayoran. Pembaruan ini juga dapat menghidupkan kembali sebuah sejarah yang berharga dan telah dilupakan, tetapi juga dapat menciptakan lingkungan dan ruang baru bagi masyarakat sekitar serta penggunanya.
PENDEKATAN ARSITEKTUR REGENERATIF TERHADAP RUANG KULINER DAN SENI DI JALAN SABANG JAKARTA PUSAT Larissa, Tamara; Sutisna, Sutarki
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35603

Abstract

Jalan Sabang is a legendary area in Jakarta that has undergone various transformations since the colonial era. As part of the cultural corridor connecting Monas to Bundaran HI, this area plays an important role in the city's social and economic interactions. The emergence of the COVID-19 pandemic has caused a decline in activity, resulting in the fading of cultural identity and the weakening of the function of space as a place for community gatherings. The shift in focus on the area has caused the degradation of the area's character as a dynamic community space. The irregularity of spatial planning due to the large number of unorganized street vendors (PKL) has caused various problems, such as narrowing of roads, congestion, decreased visual quality of the area, and reduced comfort for pedestrians. The lack of space for cultural expression, minimal green space, and weak management of the area have also weakened the quality of life and overall attractiveness of the area. This research aims to design culinary facilities combined with street art through a regenerative and adaptive architectural approach. The aim is to revive Jalan Sabang's role as an inclusive, sustainable public space rooted in local identity. The design strategy includes the integration of community space, creative space, a comfortable pedestrian circulation system, and environmentally friendly elements to revive the socio-economic function of the area. The methods used include literature studies, field observations, user interviews, and site analysis. The results of the study show that regenerative architecture principles including the use of local communities, food waste processing, and adaptive design play a role in reviving the socio-economic power of the area, increasing pedestrian comfort, and creating public spaces that are relevant to today's needs. Keywords: adaptive; community; culture; regenerative; sabang Abstrak Jalan Sabang merupakan kawasan legendaris di Jakarta yang telah mengalami berbagai transformasi sejak era kolonial. Sebagai bagian dari koridor budaya yang menghubungkan Monas hingga Bundaran HI, kawasan ini memiliki peran penting dalam interaksi sosial dan ekonomi kota. Timbulnya pandemi COVID-19 menyebabkan penurunan aktivitas, dan mengakibatkan memudarnya identitas budaya dan melemahnya fungsi ruang sebagai tempat berkumpul komunitas. Pergeseran fokus pada kawasan menyebabkan degradasi karakter kawasan sebagai ruang komunitas yang dinamis. Ketidakteraturan tata ruang akibat banyaknya Pedagang Kaki Lima (PKL) yang tidak tertata menimbulkan berbagai masalah, seperti penyempitan jalan, kemacetan, penurunan kualitas visual kawasan, dan berkurangnya kenyamanan bagi pejalan kaki. Kurangnya ruang ekspresi budaya, minimnya ruang hijau, dan lemahnya pengelolaan kawasan turut memperlemah kualitas hidup dan daya tarik kawasan secara keseluruhan. Penelitian ini bertujuan merancang fasilitas kuliner yang dipadukan dengan seni jalanan melalui pendekatan arsitektur regeneratif dan adaptif. Tujuannya adalah untuk menghidupkan kembali peran Jalan Sabang sebagai ruang publik yang inklusif, berkelanjutan, dan berakar pada identitas lokal. Strategi perancangan mencakup integrasi ruang komunitas, ruang kreatif, sistem sirkulasi pedestrian yang nyaman, dan elemen ramah lingkungan untuk menghidupkan kembali fungsi sosial-ekonomi kawasan. Metode yang digunakan meliputi studi literatur, observasi lapangan, wawancara dengan pengguna, dan analisis tapak. Hasil dari studi menunjukkan prinsip arsitektur regeneratif meliputi pemanfaatan komunitas lokal, pengolahan limbah makanan, dan desain adaptif berperan dalam menghidupkan kembali daya sosial-ekonomi kawasan, meningkatkan kenyamanan pedestrian, serta menciptakan ruang publik yang relevan dengan kebutuhan masa kini.
PENDEKATAN ARSITEKTUR SIMBIOSIS TERHADAP SENTRA HASIL PERIKANAN DI DESA SUNGAI KAKAP, KALIMANTAN BARAT Vivianty, Monica; Sutisna, Sutarki
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35604

Abstract

Sungai Kakap Village is a village located on the banks of the Kakap River and directly adjacent to the Natuna Sea, making Sungai Kakap Village famous for its tourism, especially in terms of seafood cuisine and natural scenery for the people of Pontianak City. The issue of seafood restaurants located in the Sungai Kakap Village pier area does not reprocess food waste (especially fish) by throwing it directly into the river. The auction place and fish market also produce waste from leftover fish pieces which then end up in the river. The river water smells bad due to the decomposition of fish protein. The aim of the project is to design an integration so that the Sungai Kakap Village pier area fulfills its potential to rise. The design method applied is "Symbiosis" in order to create a program that integrates the life cycle and activities in the area around the Sungai Kakap Village pier. The program is related to fish auctions, fish markets, fish waste management as well as educational tourism. Fish waste management as a regenerative system in buildings, where fish waste is reprocessed into fuel for fishing boats, namely biodiesel. The benefits of the project are based on the vision of “From Fish, For Fish” which is the basis of the regenerative system which helps preserve fish life in the river ecosystem and becomes the prosperity of the surrounding community. Keywords: ecosystem; fish; kakap; pier; river Abstrak Desa Sungai Kakap merupakan desa yang terletak di tepian Sungai Kakap dan berbatasan langsung dengan Laut Natuna menjadikan Desa Sungai Kakap terkenal akan wisatanya terutama dalam hal kuliner seafood dan pemandangan alamnya bagi masyarakat Kota Pontianak. Isu rumah makan seafood yang berada di area dermaga Desa Sungai Kakap tidak mengolah kembali limbah sisa makanan (terutama ikan) dengan membuangnya langsung ke sungai. Tempat pelelangan dan pasar ikan juga turut menghasilkan limbah dari sisa potongan ikan yang kemudian, berakhir di sungai. Air sungai berbau tidak sedap akibat dekomposisi protein ikan. Tujuan proyek ialah untuk merancang sebuah integrasi agar area dermaga Desa Sungai Kakap memenuhi potensinya untuk menjulang. Metode perancangan yang diterapkan ialah “Simbiosis” agar tercipta sebuah program yang mengintegrasi siklus kehidupan dan aktivitas di area sekitar dermaga Desa Sungai Kakap. Program terkait dengan pelelangan ikan, pasar ikan, manajemen limbah ikan sekaligus eduwisata. Manajemen limbah ikan sebagai sistem regeneratif dalam bangunan, di mana limbah ikan diolah kembali menjadi bahan bakar untuk kapal nelayan, yakni biodiesel. Manfaat proyek berangkat dari visi “From Fish, For Fish” yang menjadi dasar sistem regeneratif turut melestarikan kehidupan ikan di ekosistem sungai serta menjadi kemakmuran komunitas warga sekitar.
PENDEKATAN ARSITEKTUR BIOMIMIKRI TERHADAP BALE PRANA DI KELURAHAN KEBON SIRIH Kayan, Laura Fiona; Sutisna, Sutarki
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35605

Abstract

The phenomenon of air pollution in Jakarta has reached a critical point, marked by the city being recorded as having the highest Air Quality Index (AQI) in the world on August 13, 2024. The concentration of fine particulate matter (PM2.5), exceeding the World Health Organization's (WHO) safe threshold, has led to a significant increase in cases of Acute Respiratory Infections (ARI), especially in densely populated urban areas. Unfortunately, architectural responses to this crisis remain limited, particularly in designing spaces that support respiratory health. This research proposes an alternative approach through the integration of biomimicry architecture and the use of betel leaf (Piper betle) and golden pothos (Epipremnum aureum), which are known for their bioactive compounds and natural ability to absorb air pollutants. The study focuses on Bale Prana, a prototype of an urban therapy space that combines betel leaf cultivation, natural ARI remedies, preservation of traditional knowledge, and the strengthening of healthy urban communities. The research methodology adopts a descriptive qualitative approach through literature studies and architectural design exploration based on biomimicry principles. The process includes problem identification, in-depth study of the characteristics of betel plants, and the application of these findings in the design of the building façade. The result of this research is a biomimetic façade concept that functions not only as an aesthetic element but also as an ecological device for filtering air and supporting natural respiratory healing. The findings highlight the potential of transforming plant structures and biological materials into architectural solutions that adapt to the challenges of urban environmental crises. Keywords:  betel; biomimetic; biomimicry; facade Abstrak Fenomena polusi udara di Jakarta telah mencapai titik kritis, ditandai dengan ditetapkannya kota ini sebagai pemilik Indeks Kualitas Udara (AQI) tertinggi di dunia pada 13 Agustus 2024. Kadar partikulat halus (PM2.5) yang melebihi ambang batas aman WHO menyebabkan lonjakan signifikan pada kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama di wilayah urban padat penduduk. Sayangnya, respons arsitektural terhadap krisis ini masih minim, terutama dalam merancang ruang yang mendukung kesehatan pernapasan masyarakat. Penelitian ini menawarkan pendekatan alternatif melalui integrasi arsitektur biomimikri dengan pemanfaatan tanaman sirih (Piper betle) dan sirih gading (Epipremnum aureum) yang dikenal memiliki senyawa bioaktif serta kemampuan menyerap polutan udara secara alami. Studi ini berfokus pada Bale Prana, sebuah prototipe ruang terapi urban yang menyatukan pertanian sirih, pengobatan alami ISPA, pelestarian pengetahuan tradisional, dan penguatan komunitas sehat. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi literatur serta eksplorasi desain arsitektural berbasis biomimikri. Prosesnya meliputi identifikasi masalah, pengkajian mendalam mengenai karakteristik tanaman sirih, serta penerapan hasil kajian dalam perancangan fasad bangunan. Hasil akhir penelitian ini adalah konsep fasad biomimetik yang tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetis, tetapi juga memiliki peran ekologis dalam menyaring udara serta mendukung pemulihan kesehatan pernapasan secara alami. Temuan ini menunjukkan potensi transformasi material hayati dan struktur tanaman menjadi solusi arsitektural yang adaptif terhadap krisis lingkungan urban.