Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya perbedaan yang terjadi dalam masyarakat masa kini dalam memahami ahlulbait. Diantara mereka ada yang terlalu mengunggulkan akan ahlulbait dan sebagian yang lain terlalu merendahkannya. Menyadari pentingnya makna ahlulbait yang akan terjadi perbedaan diantara masyarakat masa kini, maka dari keadaan inilah peneliti tertarik untuk mengkaji lebih dalam mengenai makna ahlulbait perpspektif Sha'rawi dalam Kitab Tafsir Khawatir al-Sha'rawi Hi awl al-Qur'an al Karim. Dengan ini berharap agar para pembaca bisa memahami lebih mendalam tentang ahlulbait Nabi Muhammad saw dengan beberapa pembahasan yaitu: Penafsiran Ahlulbait perspektif al-Sha'rawi dalam kitab Tafsir Khawatir al-Sha'rawi Hiawl al-Qur'an al Karim dan cara menyikapi ahlulbait Rasulullah SAW. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat kajian pustaka (Library research). Adapun dalam metodenya, peneliti menggunakan metode tafsir tematik tokoh. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kitab tafsir Khawatir al-Sha'rawi Hiawl al-Qur'an al-Karim. Al-Sha'rawi lainnya seperti Ana min Sulalat ahlbait. Adapun hasil dari penelitian ini, Sha'rawi mengungkapkan bahwasannya ahlulbait tidak hanya terbatas pada nasab dari pihak pria semata, namun juga mencakup pihak wanita di dalamnya. karena wanita sangat berperan dalam menjaga privasi dan memberikan dukungan. Oleh karena itu, dalam suatu keputusan atau hukum, peran seorang wanita tidak pernah dilalaikan. Adapun lafadz "al-Rijsu" menurut Sha'rawi mempunyai 3 makna, 1. Kotoran fisik, 2. Kekejian moral, 3. Kemunafikan.
Copyrights © 2024