FIRDAUS: Jurnal Keislaman, Pemikiran Islam, dan Living Qur'an
FIRDAUS: Jurnal Keislaman, Pemikiran Islam dan Living Qur’an merupakan jurnal akademik yang diterbitkan 2 kali dalam setahun (Desember dan Juni) oleh Program Studi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir STAI Al-Akbar Surabaya. Jurnal ini menerbitkan penelitian, teori, perspektif, paradigma dan metodologi penafsiran serta ilmu-ilmu al-Qur’an dimana proses penyuntingan diperlukan tanpa mengubah maksud dan isi tulisan. Ruang lingkup Firdaus: Jurnal Keislaman, Pemikiran Islam dan Living Qur’an adalah (1) Ilmu-Ilmu al-Qur’an; (2) Tafsir; (3) Living Qur’an; (4) Ilmu Kalam; (5) ilmu Balaghah; (6) Filologi; (7) Linguistik E-ISSN : 2987-3134
Articles
27 Documents
Perbedaan Qiraat Warsy dan Hafsh pada Juz 1 (Surat Al-Baqarah Ayat 1-114)
Al Masithoh, Silvinatin;
Rifqy, M. Amir;
Farih, Ahmad
FIRDAUS: Jurnal Keislaman, Pemikiran Islam, dan Living Qur'an Vol 1 No 01 (2022): FIRDAUS: Jurnal Keislaman, Pemikiran Islam dan Living Qur'an
Publisher : Prodi IAT STAI Al Akbar Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.62589/iat.v1i01.49
Ilmu Qiraat adalah salah satu cabang dari ulumul Qur’an, yang artinya menjadi salah satu ilmu terpenting dalam pemahaman terhadap al-Qur’an. Dalam ulumul Qur’an terjadi perbedaan pemaknaan tentang sab’atu Ahruf (tujuh huruf). salah satunya adalah Qiraat Sab’ah yang sedang berkembang seperti sekarang ini. Pada awalnya tidak tidak banyak yang mengenal tentang perbedaan bacaan ini, namun sekarang bacaan Qiraat sudah lebih berkembang bahkan menjadi Qiraah arba’ah Asyra. Pada bacaab Qiraat Sab’ah terdapat tujuh imam dengan masing-masing perawi yang berbeda. Tujuh imam ini memiliki ragam bacaan yang berbeda pada tiap-tiap huruf yang dianggap sulit dalam pengucapannya. Namun untuk kita yang orang Indonesia lebih menganut pada riwayat Imam Hafs salah satu perawi dari Imam ‘Ashim. Perbedaan bacaan ini dikarenakan setiap Rawi memiliki jalur periwayatan yang berbeda, akan teteapi tetap bertemu pada sahabat Nabi atau Tabi’in. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk lebih mengenal perbedaan bacaan yang terjadi diantara para Imam Qiraat. Hal ini ditujukan agar ilmu dalam pembacaan al-Qur’an lebih mendalam dan dapat mengharagi setiap perbedaan yang terjadi. Menggunakan metode library research, mengumpulkan data-data yang berkaitan dengan pembahasan kemudian dianalisis letak perbedaan bacaan pada setiap ayat dalam surat al-Baqarah. Dengan aaadaanya penelitian ini diharapkan lebih memudahkan untuk dapat membaca surat al-Baqarah dengan riwayat lain serta mengetahui letak perbedaannya.
Nilai Moral Kisah Nabi Ayub dalam Al-Quran (Studi Tafsir Tematik Wahbah Zuhaili dalam Kitab Al-Munir)
Chaliqnasyinda, Risalatul;
Al Masithoh, Silvinatin
FIRDAUS: Jurnal Keislaman, Pemikiran Islam, dan Living Qur'an Vol 1 No 01 (2022): FIRDAUS: Jurnal Keislaman, Pemikiran Islam dan Living Qur'an
Publisher : Prodi IAT STAI Al Akbar Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.62589/iat.v1i01.50
Penelitian ini bertujuan untuk menjawab beberapa pertanyaan. Pertama, bagaimana penafsiran ayat-ayat terkait kisah Nabi Ayub dalam al-Qur’an menurut Wahbah Zuhaili. Kedua, bagaimana korelasi nilai moral kisah Nabi Ayub dengan konteks kekinian. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik telaah dokumen, selanjutnya dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif analitis dalam penelitian kualitatif, yakni menafsirkan dalil-dalil tentang kisah Nabi Ayub kemudian dikaitkan dengan kejadian di era sekarang dan diambil nilai moralnya. Dari hasil penelitian, terdapat gambaran terkait kisah Nabi Ayyub secara keseluruhan pada ayat-ayat yang dipilih untuk dikaji dalam penelitian ini kemudian, ayat tersebut ditafsirkan oleh Wahbah Zuhaili dalam kitabnya Al-Munir yang dijelaskan secara gamblang terkait segi kehidupan Nabi Ayyub, dari masa kejayaannya hingga ketika Nabi Ayyub menerima ujian. Selanjutnya diambil nilai moral dari kisah tersebut serta hikmahnya. Kesimpulannya adalah ada 7 ayat dalam al-Qur’an yang berkenaan dengan kisah Nabi Ayyub dan terpisah dalam 3 surah yang berbeda yaitu QS. Shad [38] : 41-44, QS. Al-Anbiya’ [21] : 83-84 dan QS. Al-An’am [6] : 84. Ketujuh ayat ini memiliki keterkaitan satu sama lain, pada kisah Nabi Ayyub yang kemudian diambil nilai moral.
Pengasuhan Anak Yatim dalam Al-Qur’an Perspektif Hamka Pada Tafsir Al-Azhar
Azizah, Nur;
Rahmawati, Kharolina
FIRDAUS: Jurnal Keislaman, Pemikiran Islam, dan Living Qur'an Vol 1 No 01 (2022): FIRDAUS: Jurnal Keislaman, Pemikiran Islam dan Living Qur'an
Publisher : Prodi IAT STAI Al Akbar Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.62589/iat.v1i01.51
Problematika yang muncul adalah kurangnya pemahaman masyarakat tentang bagaimana cara mengasuh anak yatim. Kebanyakan masyarakat menyayangi anak yatim pada saat acara tertentu saja. Sedangkan dalam Al-Qur’an, Allah telah memberi petunjuk bagaimana cara untuk mengasuh, memelihara dan menyayangi mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penafsiran ayat-ayat pengasuhan anak yatim perspektif Hamka dalam Tafsir Al-Azhar, dan bagaimana role model yang bisa diterapkan dalam pengasuhan anak yatim di panti asuhan dari penafsiran Hamka. Dalam penyusunan skripsi ini penulis menggunakan jenis penelitian library research. Sumber data yang digunakan adalah sumber data primer dan sumber data sekunder. Menggunakan teknik pengumpulan data studi dokumentasi, selanjutnya dianalisis dengan menggunakan metode maudhu’i. Hasil dari penelitian ini menunjukkan, penafsiran Hamka tentang ayat-ayat pengasuhan anak yatim dalam Tafsir Al-Azhar yaitu dalam mengasuh anak yatim harus berdasarkan iman kepada Allah. Selanjutnya role model pengasuhan anak yatim yang bisa diterapkan di panti asuhan dari penafsiran Hamka adalah dengan pengasuhan berbasis pembinaan. Kesimpulannya, dalam mengasuh anak yatim harus berlandaskan dengan iman. Keseluruhan ayat tentang anak yatim berisi perintah berbuat baik kepada kepada anak yatim, larangan berlaku buruk terhadap mereka dan perintah memelihara harta mereka sampai mereka dewasa. Kemudian pihak yang berkewajiban merawat anak yatim lebih diutamakan yang memiliki hubungan kerabat, atau jika tidak mampu maka dapat diserahkan kepada pihak selain kerabat yang mampu mengasuhnya, seperti lembaga sosial atau pemerintah. Role model pengasuhan anak yatim yang dapat diterapkan di panti asuhan adalah pengasuhan berbasis pembinaan.
Khauf Perspektif Buya Hamka (Studi Analisis terhadap Ayat-Ayat dalam Tafsir Al-Azhar)
Akhidatus, Riris;
Rahman , Azibur
FIRDAUS: Jurnal Keislaman, Pemikiran Islam, dan Living Qur'an Vol 1 No 01 (2022): FIRDAUS: Jurnal Keislaman, Pemikiran Islam dan Living Qur'an
Publisher : Prodi IAT STAI Al Akbar Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.62589/iat.v1i01.52
Penelitian ini bertujuan untuk menjawab beberapa pertanyaan. Pertama, bagaimana penafsiran Buya Hamka terhadap ayat-ayat khauf. Kedua, bagaimana implementasi khauf perspektif Buya Hamka dalam tafsir Al Azhar. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik telaah dokumen, selanjutnya dianalisis dengan metode deskriptif, analisis, dengan pola pikir deduktif, yakni ayat-ayat tentang khauf yang dikaitkan dengan perasaan seseorang yang sedang gelisah atau takut. Hasil penelitian, menyimpulkan bahwa khauf menurut hamka adalah rasa takut yang timbul karena adanya adzab, siksa dan kemurkaan Allah. Menurut analisis khauf memiliki dua formulasi yaitu khauf positif dan khauf negatif. Problematika yang muncul yakni sebagian orang memiliki perasaan takut yang positif dan takut yang negatif. Khauf positif yaitu rasa takut yang membuat seseorang untuk bersikap hati-hati dalam mengambil segala tindakan. Sedangkan khauf negatif itu rasa takut yang termasuk bagian dari penyakit rohani atau jiwa. Rasa takut seperti itu dapat mengganggu kepribdian seseorang.Dari kesimpulan di atas, diharapkan kepada berbagai pihak untuk mengetahui bahwa formulasi khauf memiliki dua macam sehingga seseorang bisa menepatkan rasa khauf sesuai dengan tempatnya.
Living Quran dalam Tradisi Pembacaan Ratib Al-Haddad di Pondok Pesantren Sunan Kalijogo Kalangan Surabaya
Masduki, Khiorul;
Danendra, Moch Farel;
Rahmawati, Kharolina
FIRDAUS: Jurnal Keislaman, Pemikiran Islam, dan Living Qur'an Vol 1 No 01 (2022): FIRDAUS: Jurnal Keislaman, Pemikiran Islam dan Living Qur'an
Publisher : Prodi IAT STAI Al Akbar Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.62589/iat.v1i01.53
Salah satu pembiasaan berdzikir secara berjamaah adalah dengan membaca wirid tertentu secara istiqomah. Wirid tertentu tersebut ada beraneka macam, salah satunya adalah teks wirid yang digubah oleh Al-Haddad, atau lebih dikenal dengan ratib al-Haddad. Santri di Pondok Pesan Sunan Kalijogo Surabaya termasuk masyarakat muslim yang mengamalkan bacaan Ratib al-haddad secara berulang. Dalam artikel ini penulis ingin mengetahui bagaimana praktik living qur’an yang terjadi di Pondok Pesantren Sunan Kalijogo Surabaya yang sudah menjadi rutinitas mereka selama ini. Dan bagaimana pengaruh pembacaan Ratib al-Hadad dalam kehidupan mereka. Penulis menggunakan metode wawancara dalam menggali data utama dari informan, dari wawancara tersebut data di analisis dengan teori deskriptif analitif yang menjelaskan secara jelas bagaimana praktik living qur’an berupa pembacaan Ratib al-Hadad dalam keseharian mereka. Dari penelitian ini dapat diketahui bahwa tujuan pembacaan Ratib Al-Haddad di Pondok Pesantren Sunan Kalijogo adalah untuk membentengi para santri dari gangguan-gangguan yang sifatnya metafisika dan non medis serta untuk mengamankan dari hal-hal yang bersifat kriminal seperti pencurian dan sebagainya. Keutamaan membaca Ratib Al-Haddad antara lain: diberi rezeki yang berlimpah, diberikan umur yang panjang, mendapatkan husnul khatimah, dijaga oleh Allah SWT, hajatnya dikabulkan, menyembuhkan penyakit hati.
Islam di Finlandia antara Kebebasan dan Diskriminasi
Salim, M. Abdulloh;
Aimmah, Qudwatul;
Sari, Harum Ita Puspa
FIRDAUS: Jurnal Keislaman, Pemikiran Islam, dan Living Qur'an Vol 2 No 01 (2023): FIRDAUS: Jurnal Keislaman, Pemikiran Islam dan Living Qur'an
Publisher : Prodi IAT STAI Al Akbar Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.62589/iat.v2i01.87
Finlandia tercatat sebagai negara yang aman dan nyaman untuk dihuni. Sebagian besar warga negara Finlandia memeluk Kristen. Namun demikian, Islam mempunyai ruang tersendiri. Islam mulai masuk dan menorehkan kisah di Finlandia pada abad ke- 19 saat invasi Rusia. Negara dengan sistem Pendidikan terbaik di dunia ini sangat toleran dalam hal kebebasan beragama. Meski muslim di sana tidak dibatasi ruang geraknya, namun perjalanan mereka tidak selalu indah. Artikel ini membahas tentang sejarah masuk dan perkembangan Islam di Finlandia, kehidupan dan tantangan muslim sebagai minoritas serta situasi kontemporernya di Finlandia. Metode yang digunakan adalah kajian literatur dengan menganalisis data dari berbagai sumber primer terkait sejarah serta perkembangan Islam di Finlandia, baik berupa buku, artikel ilmiah maupun dari situs berita online yang kredibel. Agama Islam mulai masuk ke Finlandia pada abad ke- 19 ketika masa kependudukan Rusia. Rusia mendatangkan pekerja dan prajurit kaum muslim Tatar dari Turki. Dan mulai saat itulah, muslim Turki menetap dan berasimilasi dengan warga sekitar. Akan tetapi keberadaan muslim Tar-tar pada masa itu bersifat eksklusif dan tidak terbuka dengan komunitas lain, sehingga Islam kurang terdengar gaungnya. Kehadiran imigran muslim pada tahun 1990 lah yang membuat perkembangan muslim di Finlandia meningkat dan membuat wajah Islam semakin dikenal, sehingga banyak warga asli yang tersentuh dan memeluk Islam. Melalui undang - undang kebebasan beragama, semua warga Finlandia bebas mengekspresikan sikap keberagamaannya. Terbukti dengan banyaknya komunitas muslim dan masjid yang berdiri di Finlandia. Namun sebagai warga minoritas serta merebaknya islamophobia di Eropa, sebagian muslim di Finlandia tidak luput dari tindakan diskriminasi
Al-Qur’an dan Dialektika Kemanusiaan: Antropologi Sebagai Pendekatan dalam Studi Al-Qur’an
Nor Afif Hamid, Abdurrahman;
Nuzuliyah, Wilda Rahmatin
FIRDAUS: Jurnal Keislaman, Pemikiran Islam, dan Living Qur'an Vol 2 No 01 (2023): FIRDAUS: Jurnal Keislaman, Pemikiran Islam dan Living Qur'an
Publisher : Prodi IAT STAI Al Akbar Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.62589/iat.v2i01.89
Artikel ini membahas terkait urgensi pendekatan antropologi dalam kajian studi Al-Qur’an. Antropologi merupakan cabang disiplin ilmu humaniora sebagai alat bantu supaya dapat memahami Al-Qur’an sebagai wujud praktek keberagamaan yang berkembang dalam masyarakat. Al-Qur’an ditempatkan dan dipahami secara teologi. Pada waktu yang bersamaan, di sisi lain, Al-Qur’an hadir dalam ruang dan waktu (kebudayaan tertentu). Karenanya, hal ini penting untuk dikaji dalam tataran Al-Qur’an ruang dan waktu, yakni dengan pendekatan antropologi. Kajian dalam artikel ini menunjukkan bahwa antropologi sebagai disiplin keilmuan memiliki fungsi, pertama, sebagai alat bantu memahami aspek empiris keberagamaan umat Islam. Kedua, melihat keberagamaan yang dipengaruhi oleh budaya dalam praktik ajaran Islam. Kesimpulan akhir menunjukkan bahwa antropologi memiliki kontribusi besar dalam kajian studi Al-Qur’an.
Tradisi Pembacaan Surat Al-Kahfi di PPTQ An-Nisa Surabaya (Kajian Living Qur’an)
Insyirah, Dava Amaliah;
Alimah, Ita Ittiqo’ul;
Rahmawati, Kharolina
FIRDAUS: Jurnal Keislaman, Pemikiran Islam, dan Living Qur'an Vol 2 No 02 (2023): FIRDAUS: Jurnal Keislaman, Pemikiran Islam dan Living Qur'an
Publisher : Prodi IAT STAI Al Akbar Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.62589/iat.v2i02.198
Al-Qur’an selain berfungsi sebagai petunjuk dan pedoman bagi umat manusia juga sebagai pemberi syafaat bagi pembacanya. Pembacaan ayat al-Qur’an sudah menjadi tradisi di masyarakat muslim secara umun. Bahkan sudah menjadi rutinitas yang dilakukan secara istiqomah. Artikel ini membahas tentang bagaimana tradisi pembacaan surat al-Kahfi di PPTQ An Nisa’ Surabaya, yang merupakan salah satu tradisi pembacaan qur’an di tengah masyarakat yang sedang marak di lakukan, sebagai dorongan spiritual yang muncul dengan adanya fadhilah-fadhilah yang menyertai surat-surat tertentu seperti al-Kahfi. Dalam artikel ini penulis menggunakan metode living Qur’an untuk mengatahui bagaimana rutinitas tersebut dilakukan dan apa yang mereka yakini dari mengikuti rutinitas tersebut. Sehingga dari penelitian ini penulis mengetahui sebab-sebab mereka mengikuti rutinitas pembacaan surat al Kahfi, bagaimana mereka melaksanakan rutinitas tersebut dan apa yang mereka rasakan setelah istiqamah mengikuti rutinitas tersebut di PPTQ An Nisa’ Surabaya.
Konsep Al-Ifk (Hoaks) dalam Al-Qur’an (Studi Tafsir Tematik terhadap Penafsiran M. Quraisy Shihab dalam Tafsir Al-Misbah)
Afandi, Ahmad
FIRDAUS: Jurnal Keislaman, Pemikiran Islam, dan Living Qur'an Vol 2 No 01 (2023): FIRDAUS: Jurnal Keislaman, Pemikiran Islam dan Living Qur'an
Publisher : Prodi IAT STAI Al Akbar Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.62589/iat.v2i01.206
Salah satu problem sosial di dunia, khususnya di Indonesia dewasa ini adalah maraknya pemberitaan hoaks di berbagai media masa. Munculnya berita ini tidak saja membuat bingung di berbagai lapisan masyarakat, tetapi bahkan sampai menciderai reputasi pihak tertentu. Dalam penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimanapandangan Al-Qur`an khususnya dalam tafsir Al-Misbah karya M. Quraisy Shihab dalam merespons fenomena hoaks. Dengan menggunakan pendekatan tafsir tematik yang digagas al-Farmawi, yaitu mendeskripsikan ayat-ayat ifk dalam Al-Qur`an dalam konteks redaksi, makna, maupun pesan-pesan yang terkandung di dalamnya. Hasil Penelitian kata ifk disebut 29 kali dalam Al-Qur’an. Namun, dari berbagai ayat tersebut penulis hanya menemukan beberapa ayat yang relevan dengan pembahasan hoaks, yaitu pada surat An-Nur ayat 11-12. Dalam ayat tersebut dijelaskan bagaimana berita bohong yang terjadi pada istri Rasulullah yang dituduh telah berzina dengan sahabat Nabi yaitu Shafwan bin Mu’thil As-Silmi. Al-Qur’an menjelaskan solusi terkait menghadapi hoaks yaitu dengan, berfikir positif, tabayyun, twaqquf dan war on hoax (memerangi hoaks).
Teknologi Besi sebagai Pertahanan Militer dalam Al-Qur'an
Al Masithoh, Silvinatin;
Kurniawan, Ibnu Mas'ud
FIRDAUS: Jurnal Keislaman, Pemikiran Islam, dan Living Qur'an Vol 2 No 01 (2023): FIRDAUS: Jurnal Keislaman, Pemikiran Islam dan Living Qur'an
Publisher : Prodi IAT STAI Al Akbar Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.62589/iat.v2i01.208
Manusia merupakan mahluk yang diberikan berbagai kesempurnaan oleh Sang Pencipta. Berbagai kesempurnaan tersebut hadir melalui berbagai potensi yang dimilikinya. Panca indera untuk mengenal dunia secara empiris, akal untuk berpikir, dan hati untuk mencapai spiritualitas. Kesemuanya lengkap dimiliki hanya pada diri manusia. Oleh karenannya, Allah menjadikan manusia sebagai satu-satunya mahluk yang mendapat gelar khalifatullah fil ard yang bertugas untuk memakmurkan semesta beserta isinya.