Seiring meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat di Kelurahan Tegalgondo dan Tunggulwulung mengakibatkan terjadinya alih fungsi lahan yang semula merupakan lahan hijau berubah menjadi lahan pemukiman maupun perdagangan yang berdampak pada debit banjir. Mengantisipasi terjadinya banjir di kemudian hari, ekodrainase dan permeable pavement diupayakan untuk diterapkan pada kedua Kelurahan Tegalgondo-Tunggulwulung dengan tujuan untuk menambah resapan juga mengurangi debit banjir. Setalah proses pengamatan data selesai, didapatkan luapan banjir pada saluran e-f sebesar 0,258 m3/detik. Banjir terjadi akibat kapasitas saluran e –f sebesar 1,377 m3/detik tidak mampu menampung debit banjir sebesar 1,635 m3/detik. Data – data yang ada kemudian dijadikan dasar kajian pengurangan risiko banjir seperti: laju resap air, dan dimensi saluran eksisting. Didapatkan hasil berupa kebutuhan biopori 105.213 buah. Bedasarkan rancangan anggaran biaya, total biaya pembangunan untuk biopori sebesar Rp 594.982.526.
Copyrights © 2023