Pendidikan di era digital saat ini menghadapi tantangan besar dalam komunikasi antar generasi, terutama antara guru dan siswa Generasi Alfa. Perbedaan cara berpikir, nilai, dan pola interaksi antara kedua belah pihak dapat menciptakan ketegangan yang memperumit proses pembelajaran. Menggunakan konsep fusi horizon dari Hans-Georg Gadamer, penelitian ini menganalisis bagaimana pemahaman bersama dapat tercipta melalui dialog antar generasi yang berbeda perspektif. Konsep ini menekankan pentingnya pertemuan dua horizon yang tidak harus menyatu, tetapi saling mempengaruhi untuk mencapai pemahaman yang lebih luas. Dalam konteks pendidikan, guru berperan sebagai "Pemandu Horizon," menjembatani perbedaan dan menciptakan ruang bersama yang memungkinkan interaksi yang lebih mendalam. Melalui refleksi antropologis, etis, dan epistemologis, peneliti menyarankan bahwa guru perlu mengadaptasi metode pengajaran untuk memenuhi kebutuhan zaman tanpa mengorbankan nilai-nilai pendidikan yang lebih mendalam. Ketegangan yang muncul akibat perbedaan ini dapat menghasilkan "ledakan" pemahaman baru yang memperkaya pengalaman belajar di kelas. Pemahaman ini mengarah pada pendekatan pendidikan holistik yang tidak hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga mengintegrasikan keterampilan sosial dan etika dalam pembelajaran.
Copyrights © 2025