Mobile dating app Bumble telah dikenal sebagai ‘Tinder versi feminis’ karena memungkinkan perempuan untuk mengontrol penuh aktivitas percakapan mereka. Bumble juga dipandang sebagai lanskap teknologi baru, dimana perempuan dapat melakukan aktivitas kencan secara online melalui proses menginisiasikan percakapan, mengeksplorasi relasional yang beragam, hingga hasrat seksual. Penelitian ini menggunakan paradigma Kristis dengan metode fenomenologi dan dalam memperoleh data menggunakan wawancara tidak terstruktur terhadap 43 informan pengguna perempuan Jabodetabek, untuk menjawab pengalaman-pengalaman apa saja yang mereka temui selama menggunakan Bumble. Hasil dari penelitian menemukan bahwa fitur Bumble yang terkesan memberdayakan perempuan ini membuat perempuan dapat bernegosiasi dan berpartisipasi dalam menciptakan sebuah hubungan impian, meskipun dianggap melawan norma gender tradisional yang melekat di masyarakat. Dimulai dari hubungan yang paling banyak dan paling mudah ditemukan seperti hubungan pertemanan, hingga hubungan yang membutuhkan usaha lebih untuk menemukannya, seperti pacar atau suami, serta kejadian-kejadian lain yang mereka alami selama menggunakan mobile dating app Bumble, dari yang menyenangkan, hingga meninggalkan kekecewaan.
Copyrights © 2022