Epistemologi Buddhis membedakan dirinya dari empirisme yang berfokus pada pengamatan dan pendekatan rasional yang mengandalkan penalaran dengan menekankan pengalaman langsung sebagai dasar pengetahuan. Pengetahuan yang otentik dalam Buddhisme berasal dari realisasi mendalam yang diperoleh melalui praktik kontemplatif dan bukan dari sistem kepercayaan atau asumsi eksternal. Hal ini mendorong komunikasi yang berakar pada kesadaran penuh (mindfulness) dan keterbukaan hati, berbeda dengan respons otomatis yang didorong oleh intelektualitas. Esai ini fokus pada bagaimana epistemologi Buddhis mendasari konsep komunikasi kontemplatif yang menekankan kehadiran, pendengaran mendalam, dan pemahaman tanpa prasangka. Melalui perbandingan dengan epistemologi Barat, khususnya dari perspektif empiris dan rasional yang disajikan oleh David Chalmers dan Dan Zahavi, ditunjukkan bagaimana pengalaman langsung yang dipahami dalam Buddhisme memiliki nilai intersubjektif yang mendalam dalam hubungan antarpribadi. Praktik ini yang disebut dengan belas kasih aktif oleh Thich Nhat Hanh muncul dari penderitaan bersama melalui kesadaran. Oleh karena itu, epistemologi Buddhis tidak hanya berfungsi sebagai kerangka teori, tetapi juga sebagai pendekatan praktis yang transformasional untuk komunikasi yang lebih jelas, empatik, dan berpusat pada pemahaman yang penuh kasih.
Copyrights © 2025