Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Pekalongan terletak di area pesisir pantai Pekalongan sehingga rawan terkena bencana rob. Bencana rob yang terjadi memberikan dampak pada Lapas baik itu dalam segi infrastruktur bangunan, keamanan dan aspek lainnya. Hal ini tentunya mendorong petugas untuk melakukan suatu strategi dalam menghadapi bencana rob tersebut. Strategi yang dilakukan petugas akan berjalan lebih baik jika dipadukan dengan kerjasama antar stakeholder lainnya untuk menciptakan suatu kolaborasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana strategi yang dilakukan oleh petugas lapas dengan stakeholder lain dalam menghadapi bencana rob di Lapas Kelas IIA Pekalongan serta melihat apa hal yang menjadi kendala dalam pelaksanaan strategi tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif melalui pendekatan deskriptif. Sumber data primer dan sekunder diperoleh dari hasil wawancara, observasi, dan studi dokumentasi dimana data ini kemudian diolah melalui pengumpulan data, reduksi data, pengecekkan, dan penyajian data. Hasil penelitian berupa strategi yang dilakukan dalam menghadapi bencana rob melalui collaborative governance dikaitkan pada teori manajemen strategi dan teori collaborative governance. Adapun hal yang menjadi kendala yaitu belum ada koordinasi lanjutan antara lapas dan BPBD, BPBD menginduk pada Pemerintah Daerah, akses masuk Lapas terbatas, kondisi lingkungan, pembatasan solar, serta Lapas Pekalongan yang merupakan cagar budaya.
Copyrights © 2024