Indonesia merupakan negara dengan tingkat kerentanan tinggi terhadap bencana, khususnya gempa bumi. Kalurahan Jogotirto, Sleman, DIY, terletak di jalur Sesar Opak yang aktif, menjadikannya wilayah rawan bencana. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat kesiapsiagaan, kerentanan, dan ketahanan sosial masyarakat dalam menghadapi potensi gempa bumi. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed method dengan kombinasi kualitatif dan kuantitatif. Data diperoleh melalui kuesioner berdasarkan indikator kesiapsiagaan dan kerentanan, yang dianalisis menggunakan indeks kesiapsiagaan dan kerentanan. Indeks ketahanan bencana (Disaster Resilience Index) dihitung dari hasil perbandingan keduanya. Mayoritas padukuhan di Kalurahan Jogotirto berada pada kategori "tidak siaga" hingga "sangat tidak siaga", dan menunjukkan tingkat kerentanan dari "kurang rentan" hingga "sangat rentan". Padukuhan Jlatren tercatat sebagai wilayah dengan kerentanan dan kesiapsiagaan terburuk, dengan skor ketahanan hanya sebesar 0,25, masuk kategori "sangat kurang tahan". Rendahnya kesiapsiagaan dan tingginya kerentanan disebabkan oleh minimnya edukasi kebencanaan, lemahnya peran organisasi DESTANA, serta ketimpangan infrastruktur mitigasi antar padukuhan. Temuan ini menegaskan perlunya penguatan kapasitas masyarakat melalui pelatihan berkelanjutan, pembaruan struktur organisasi kebencanaan, serta evaluasi program PRB secara berkala.
Copyrights © 2025