Technological innovation has become an essential part of daily life, where personal innovativeness and perceived usefulness significantly influence individuals' intention to adopt new technologies. This study aims to examine the role of trust as a mediator in the relationship between personal innovativeness and perceived usefulness toward intention to use. Using a quantitative approach, data were collected from 190 users of the PLN Mobile application in East Java through a Likert-scale survey. Mediation analysis using SEM-PLS was applied to evaluate relationships. The results show that both personal innovativeness and perceived usefulness have a significant direct effect on intention to use. Trust was found to mediate these relationships, but with a low mediating effect. This indicates that in the context of well-established technologies, trust may no longer be a dominant factor, while personal innovativeness and benefit perception play a more direct and influential role in shaping usage intentions. The implications of these findings suggest that technology adoption strategies should focus more on enhancing personal innovativeness and clearly communicating the tangible benefits of technology rather than building trust. Future research is recommended to explore the mediating role of trust in the context of newer or higher-risk technologies.Inovasi teknologi telah menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari, di mana inovasi pribadi dan kegunaan yang dirasakan secara signifikan memengaruhi niat individu untuk mengadopsi teknologi baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran kepercayaan sebagai mediator dalam hubungan antara inovasi pribadi dan kegunaan yang dirasakan terhadap niat untuk digunakan. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif, data dikumpulkan dari 190 pengguna aplikasi PLN Mobile di Jawa Timur melalui survei skala Likert. Analisis mediasi menggunakan SEM-PLS diterapkan untuk mengevaluasi hubungan. Hasilnya menunjukkan bahwa inovasi pribadi dan kegunaan yang dirasakan memiliki efek langsung yang signifikan pada niat untuk digunakan. Kepercayaan ditemukan untuk menengahi hubungan ini, tetapi dengan efek mediasi yang rendah. Hal ini menunjukkan bahwa dalam konteks teknologi yang sudah mapan, kepercayaan mungkin tidak lagi menjadi faktor dominan, sementara inovasi pribadi dan persepsi manfaat memainkan peran yang lebih langsung dan berpengaruh dalam membentuk niat penggunaan. Implikasi dari temuan ini menunjukkan bahwa strategi adopsi teknologi harus lebih fokus pada peningkatan inovasi pribadi dan mengkomunikasikan dengan jelas manfaat nyata dari teknologi daripada membangun kepercayaan. Penelitian di masa depan direkomendasikan untuk mengeksplorasi peran mediasi kepercayaan dalam konteks teknologi yang lebih baru atau berisiko lebih tinggi.
Copyrights © 2025