Gema Kesehatan
Vol. 17 No. 1 (2025): Juni 2025

UJI ORGANOLEPTIK BISKUIT ULAT SAGU (RHYNCHOPHORUS FERRUGINESUS) KHAS PAPUA: ORGANOLEPTIC EVALUATION OF SAGO GRUB (RHYNCHOPHORUS FERRUGINEUS) BISCUITS FROM PAPUA

K Raya, Maxianus (Unknown)
Budhi Astuti, Nia (Unknown)
Sri Rahayu, Endah (Unknown)
Wicaksono, Ferry (Unknown)



Article Info

Publish Date
20 Jun 2025

Abstract

Ulat sagu (Rhynchophorus ferrugineus) merupakan salah satu sumber protein hewani yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat di wilayah Papua dan Maluku. Mengingat kandungan proteinnya yang tinggi, diperlukan upaya untuk mengolah ulat sagu menjadi produk pangan yang lebih diminati secara luas, seperti biskuit. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat kesukaan panelis terhadap biskuit yang diformulasikan dengan ulat sagu melalui berbagai metode pengolahan. Penelitian menggunakan desain kuasi-eksperimen dengan tiga perlakuan, yaitu ulat sagu mentah, dikukus, dan disangrai. Uji hedonik dilakukan untuk menilai atribut warna, aroma, rasa, dan tekstur, dan data dianalisis perbedaannya menggunakan uji Kruskal–Wallis. Analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada warna, aroma, rasa, dan tekstur antar ketiga formulasi biskuit ulat sagu (p<0,001). Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan metode pengolahan berpengaruh signifikan terhadap tingkat kesukaan panelis dalam menilai biskuit ulat sagu. Biskuit yang diformulasikan dengan ulat sagu sangrai (F3) paling disukai panelis pada semua atribut sensori. Oleh sebab itu, metode sangrai direkomendasikan dalam pengembangan produk sejenis. Kata kunci: Biskuit, Organoleptik, Papua, Ulat Sagu     Sago worms (Rhynchophorus ferrugineus) are a highly nutritious source of animal protein traditionally consumed in Indonesia's Papua and Maluku regions. To enhance their appeal to a broader consumer base, processing sago worms into familiar food products such as biscuits is a promising approach. This study evaluated consumer sensory preferences for biscuits formulated with sago worms processed using different methods. A quasi-experimental design was employed with three treatments: raw, steamed, and roasted sago worms. A hedonic test was conducted to assess sensory attributes, including color, aroma, taste, and texture, and data were analyzed using the Kruskal–Wallis test. Statistically significant differences were found across all sensory parameters among the three formulations (p<0.001). The essential differences observed suggest that the processing method is critical in shaping consumer acceptance of sago worm biscuits. Biscuits prepared with roasted sago worms (F3) received the highest overall sensory scores from panelists. These findings highlight the potential of the roasting method as a preferred processing technique in developing culturally rooted, protein-enriched snack products. Keywords: Biscuit, Organoleptic, Papua, Sago Worm

Copyrights © 2025






Journal Info

Abbrev

gk

Publisher

Subject

Health Professions Medicine & Pharmacology Nursing Public Health

Description

Gema kesehatan is published by Poltekkes Kemenkes Jayapura twice a year. p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100. Kemdikbudristek has accredited the Gema Kesehatan journal to rank four from 2019 to 2023 based on the decree:164/E/KPT/2021. We believe that open-source knowledge is able to produce something ...