Fenomena keterlibatan pendeta dalam praktik bisnis memunculkan ketegangan antara tanggung jawab spiritual sebagai pelayan Kristus dan kebutuhan ekonomi yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Pendeta sebagai figur yang dikenal dalam merepresentasikan nilai-nilai rohani diharapkan mampu menjaga integritasnya. Namun, realitas menunjukkan bahwa kehidupan pendeta tidak terlepas dari masalah ekonomi yang berkaitan dengan kebutuhan akan dirinya dan keluarganya. Hal ini terjadi karena besaran gaji yang diterima oleh pendeta tidak dapat mencukupi kebutuhan hidupnya yang mendorong sebagian pendeta untuk terlibat dalam aktivitas bisnis sebagai upaya pemenuhan hidup. Melalui penelitian ini, penulis ingin mengkaji secara etis keterlibatan pendeta dalam prakktik bisnis melalui perspektif etika Kristen. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif melalui pendekatan studi literatur yang bersifat deskriptif-analitis berupaya menelaah prinsip-prinsip moral dalam tradisi kekristenan serta potensi konflik yang muncul. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan pendeta dalam bisnis dapat diterima selama tetap berada dalam batas-batas etika kekristenan dan tidak mengganggu panggilan pelayanannya. Dalam konteks Gereja HKBP, identitas pendeta sebagai Singkat ni Kristus dituntut untuk menjaga keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan hidup dan kesetiaan pada tugas pelayanan. Oleh karena itu, dibutuhkan pedoman etis, agar pendeta tetap menjalankan perannya dengan tanggung jawab spiritual yang utuh di tengah tantangan ekonomi.
Copyrights © 2025