Krisis ekologis global menuntut respons teologis yang tidak sekadar bersifat etis, tetapi juga epistemologis dan praksis. Kajian ini menyusun kerangka integratif antara doktrin ineransi Alkitab, hermeneutika kontekstual, dan teologi stewardship untuk menjawab ketegangan antara otoritas Kitab Suci dan tanggung jawab ekologis gereja. Dengan pendekatan kualitatif-interpretatif berbasis studi literatur, teks-teks seperti Kejadian 1:26–28 dan 2:15 dianalisis secara historis-linguistik dan kontekstual untuk merumuskan pemahaman baru mengenai mandat manusia terhadap ciptaan. Hasil analisis menunjukkan bahwa reinterpretasi konsep “menguasai” (רָדָה, rādâ), “menaklukkan” (כָּבַשׁ, kābaš), “mengusahakan” (עָבַד, ʿābad), dan “memelihara” (שָׁמַר, šāmar) memungkinkan transformasi pemahaman iman yang berakar pada otoritas Alkitab dan sekaligus relevan terhadap krisis lingkungan. Teologi stewardship diposisikan sebagai ekspresi iman yang inkarnatif, menjembatani spiritualitas, liturgi, dan advokasi ekologis dalam praksis komunitas. Penelitian ini berkontribusi dalam pengembangan ekoteologi Kristen yang kontekstual dan performatif, serta menawarkan dasar konseptual bagi gereja untuk hadir sebagai agen transformasi ekologis melalui integrasi iman, sains, dan keadilan ciptaan.
Copyrights © 2025