Penelitian ini menyelidiki praktik, tantangan, dan hasil pendidikan teater saat ini di sekolah menengah Indonesia, dengan fokus pada penelitian kasus kualitatif di satu lembaga. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana teater diintegrasikan dalam kurikulum, bagaimana teater difasilitasi di lingkungan dengan sumber daya terbatas, dan apa dampaknya terhadap pembelajaran siswa. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif dalam mengumpulkan data melalui wawancara, observasi kelas, dan analisis dokumen. Data dikodekan secara tematis untuk mengidentifikasi pola-pola utama yang terkait dengan struktur kurikulum, ketersediaan infrastruktur, pedagogi guru, keterlibatan siswa, dan dukungan institusional. Temuan menunjukkan bahwa teater terpinggirkan dalam kurikulum seni, menerima waktu pengajaran dan perhatian institusional yang terbatas. Guru menghadapi tantangan yang signifikan karena tidak adanya ruang pertunjukan, alat peraga, dan pelatihan formal dalam teater. Meskipun demikian, melalui strategi yang berpusat pada siswa seperti improvisasi dan penceritaan kontekstual, para pendidik berhasil menumbuhkan tingkat keterlibatan dan pengembangan siswa yang tinggi. Siswa melaporkan peningkatan keterampilan komunikasi, peningkatan kepercayaan diri, dan peningkatan kecerdasan emosional sebagai hasil dari partisipasi mereka dalam kegiatan teater. Penelitian ini juga menggarisbawahi bagaimana kreativitas dan empati guru mengimbangi keterbatasan struktural, mengubah kendala menjadi peluang untuk pembelajaran yang bermakna. Hasil ini menunjukkan bahwa meskipun hambatan sistemik terus menghambat integrasi seni, upaya akar rumput yang dipimpin oleh para pendidik yang berkomitmen dapat menghasilkan hasil pendidikan yang hebat. Penelitian ini menganjurkan peningkatan perhatian kebijakan, pendanaan, dan pengembangan profesional untuk mendukung pendidikan teater yang berkelanjutan dan menyerukan penelitian di masa mendatang tentang aplikasi pedagogi teater yang responsif secara budaya yang lebih luas
Copyrights © 2025